Tuduhan Kudeta Terselubung di Balik Isu Kompromi AS

Teheran — Panggung politik Iran kembali diramaikan oleh tuduhan yang menggetarkan fondasi republik Islam: adanya upaya kudeta terselubung yang didalangi oleh pemerintah sendiri. Tuduhan itu dilontar...

Tuduhan Kudeta Terselubung di Balik Isu Kompromi AS

Teheran — Panggung politik Iran kembali diramaikan oleh tuduhan yang menggetarkan fondasi republik Islam: adanya upaya kudeta terselubung yang didalangi oleh pemerintah sendiri. Tuduhan itu dilontarkan oleh faksi garis keras yang selama ini berseberangan dengan pendekatan moderat terhadap Amerika Serikat. Isu ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari perpecahan akut yang mengancam stabilitas negara.

Dua Kubu, Dua Arah Angin

Sejak kemenangan tak terduga Masoud Pezeshkian dalam pemilihan presiden cepat Juli 2024, spektrum politik Iran terbelah semakin tajam. Pezeshkian, yang dikenal sebagai reformis moderat, membawa pesan keterbukaan: negosiasi ulang kesepakatan nuklir, pelonggaran sanksi, dan perbaikan hubungan dengan Barat. Visi ini mendapat sambutan hangat dari kalangan teknokrat dan generasi muda urban yang sudah lelah dengan isolasi internasional.

Namun, di sisi lain, berdiri kubu konservatif garis keras yang menempatkan diri sebagai benteng revolusi. Mereka terdiri dari unsur-unsur penting: anggota senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), ulama berpengaruh di Dewan Wali, dan jaringan milisi sekutu di parlemen. Bagi mereka, setiap upaya berdialog dengan “Setan Besar” adalah pengkhianatan terhadap darah para syuhada dan pengingkaran terhadap prinsip “Neither East nor West”.

Ketegangan memuncak ketika dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri mengirimkan sinyal kesediaan untuk menghidupkan kembali meja perundingan Wina. Langkah ini langsung dibalas oleh gelombang cercaan dari media-media pro-IRGC, yang menyebutnya sebagai “penusukan dari dalam”.

Lahirnya Narasi “Kudeta Terselubung”

Frasa “kudeta terselubung” pertama kali mencuat dari mulut seorang anggota senior parlemen yang dikenal radikal, meskipun ia tidak menyebut nama langsung. Dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah, ia menegaskan bahwa apa yang dilakukan oleh lingkaran presiden adalah “konspirasi untuk mengubah identitas negara melalui jalur diplomasi, tanpa perlu menembakkan sebutir peluru pun.”

Media yang berafiliasi dengan kubu konservatif segera menangkap dan memperkuat narasi tersebut. Artikel-artikel yang terbit di Fars News, Tasnim, dan Kayhan secara eksplisit mengklaim bahwa tim presiden telah melampaui wewenang konstitusional, mengabaikan fatwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang disebut-sebut melarang kontak langsung dengan Washington, dan secara diam-diam membangun jembatan dengan musuh abadi.

“Ini adalah kudeta secara perangkat lunak,” tulis seorang analis konservatif yang kerap tampil di media IRGC. “Mereka tidak menggusur tank ke jalanan, tapi mereka berusaha mengubah DNA sistem dari dalam.”

Para kritikus juga menunjuk pada sejumlah penasihat presiden yang memiliki latar belakang pendidikan Barat dan dianggap memiliki jaringan luas dengan think tank Amerika. Keberadaan mereka di lingkaran dalam pengambil keputusan dijadikan bukti bahwa infiltrasi sedang berlangsung.

Bantahan Pemerintah dan Keresahan Publik

Pemerintahan Pezeshkian, melalui juru bicaranya, dengan tegas menepis tuduhan tersebut. “Kami adalah penjaga amanah revolusi, bukan perusaknya. Segala kebijakan luar negeri diambil berdasarkan konsultasi dengan lembaga-lembaga sah negara, termasuk koordinasi dengan Rahbar,” kata juru bicara itu dalam keterangan pers yang disiarkan langsung.

Ia justru membalikkan tuduhan, menyebut bahwa faksi garis keras sedang memainkan “proyek ketakutan” untuk mengonsolidasikan kekuatan menjelang transisi kepemimpinan, mengingat usia Pemimpin Tertinggi Khamenei yang sudah lanjut. Dengan melabeli pemerintah sebagai pengkhianat, kubu konservatif dinilai ingin mengamankan posisi dominan dalam struktur negara pasca-Khamenei.

Di tengah perang narasi ini, masyarakat Iran berada dalam posisi terjepit. Inflasi yang masih berkisar di angka 40% dan pengangguran anak muda yang menembus dua digit menjadikan isu perut jauh lebih mendesak ketimbang retorika ideologis. Banyak warga yang pasrah namun juga khawatir bahwa perpecahan elit ini akan semakin menunda pemulihan ekonomi.

“Saya tidak peduli siapa yang benar, saya hanya ingin harga daging turun,” keluh seorang pedagang di Bazaar Teheran, mencerminkan frustrasi yang meluas.

Taruhan Tinggi di Panggung Global

Perpecahan ini berimplikasi langsung pada kebijakan luar negeri Iran. Amerika Serikat di bawah pemerintahan yang berhati-hati menyatakan hanya akan serius berunding jika Teheran dapat menunjukkan kesatuan politik domestik. Namun, dengan adanya tuduhan kudeta seperti ini, kredibilitas Pezeshkian dipertanyakan.

Beberapa diplomat Eropa yang terlibat dalam jalur komunikasi belakang layar mengaku frustrasi. “Setiap kali kami hampir mencapai kemajuan, selalu ada ledakan politik dari dalam Iran yang menghancurkannya,” ujar seorang sumber diplomatik yang enggan disebut identitasnya.

Sementara itu, negara-negara Teluk yang mulai membangun kembali hubungan dengan Iran pasca-kesepakatan yang dimediasi China juga mengamati dengan cemas. Mereka khawatir ketidakstabilan di Teheran akan merembet ke keamanan kawasan.

Jalan Terjal Menuju Masa Depan

Para pengamat menilai bahwa tuduhan kudeta terselubung ini akan menjadi alat tekanan yang efektif untuk mengebiri pemerintah moderat. Parlemen yang dikuasai konservatif sedang menggodok rancangan undang-undang yang akan mempersempit ruang gerak presiden dalam perundingan internasional. Jika disahkan, maka upaya diplomatik Pezeshkian akan lumpuh secara hukum.

Di sisi lain, jika Pemimpin Tertinggi Khamenei akhirnya angkat bicara untuk meredakan ketegangan, ada dua kemungkinan: beliau bisa mendukung pemerintah demi stabilitas nasional, atau justru menguatkan kubu garis keras seperti yang sering terjadi di masa lalu. Keputusan itu akan sangat menentukan arah politik Iran untuk satu dekade mendatang.

Satu hal yang pasti: apa yang terjadi di Teheran bukan sekadar pertengkaran rutin antar elite, melainkan pertarungan eksistensial tentang identitas negara—antara revolusi abadi dan pragmatisme yang menggoda. Dan tuduhan kudeta terselubung hanyalah satu babak dari drama yang masih panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User