Titik Karhutla Kalimantan Meningkat, Kabut Asap Selimuti Banjarbaru

Banjarbaru — Sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan kembali dilanda kabut asap pada Agustus 2026. Peningkatan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terpantau dalam beberapa pekan terak...

Titik Karhutla Kalimantan Meningkat, Kabut Asap Selimuti Banjarbaru

Banjarbaru — Sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan kembali dilanda kabut asap pada Agustus 2026. Peningkatan titik panas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terpantau dalam beberapa pekan terakhir menjadi penyebab utama menurunnya kualitas udara di berbagai daerah, dan dampaknya paling terasa di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Pemantauan titik panas dari citra satelit menunjukkan kenaikan sebaran hotspot di beberapa kabupaten dan kota di Kalimantan. Periode Agustus memang merupakan puncak musim kemarau di wilayah tersebut, ketika lapisan gambut dan lahan kering menjadi sangat rentan terbakar. Kabut asap yang dihasilkan kemudian terbawa angin dan menyebar ke kawasan permukiman, mengganggu aktivitas warga sehari-hari.

Kualitas Udara di Banjarbaru Menurun

Di Banjarbaru, dampak kabut asap terlihat dari menurunnya jarak pandang serta meningkatnya konsentrasi partikel halus di udara. Data pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi yang masuk dalam kategori tidak sehat, terutama pada pagi hari ketika lapisan asap belum terurai oleh panas matahari. Warga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker saat beraktivitas.

Gangguan kesehatan menjadi kekhawatiran utama. Partikel halus dari asap kebakaran dapat memicu gangguan pernapasan, iritasi mata, serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan ibu hamil dinilai paling berisiko terpapar dampak kabut asap. Masyarakat juga diminta memperbanyak konsumsi air putih dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala gangguan pernapasan yang berat.

Penyebab dan Faktor Pemicu

Kebakaran lahan di Kalimantan umumnya dipicu oleh dua faktor: kondisi alam dan aktivitas manusia. Musim kemarau membuat lahan gambut mengering dan mudah terbakar, sementara praktik pembakaran lahan untuk membuka area pertanian dan perkebunan masih menjadi penyumbang utama munculnya titik api. Tiupan angin kencang turut mempercepat penyebaran api dan asap ke wilayah yang lebih luas.

Kombinasi faktor tersebut membuat penanganan karhutla menjadi tidak sederhana. Api yang membakar lapisan gambut dapat bertahan lama di bawah permukaan tanah meskipun bagian atasnya telah padam, sehingga titik api mudah muncul kembali ketika kondisi kering berlanjut. Upaya pemadaman pun membutuhkan waktu dan sumber daya yang tidak sedikit.

Upaya Penanganan dan Pencegahan

Pemerintah daerah bersama instansi terkait telah meningkatkan upaya pemadaman melalui patroli darat dan udara, termasuk pemadaman dari udara di titik-titik api yang sulit dijangkau. Selain itu, dilakukan pula upaya modifikasi cuaca untuk memicu hujan buatan, yang diharapkan dapat membantu membasahi lahan kering dan meredam penyebaran asap.

Di sisi pencegahan, sosialisasi larangan membakar lahan terus digencarkan kepada masyarakat dan pelaku usaha. Penegakan hukum terhadap praktik pembakaran lahan juga ditegaskan sebagai bagian dari upaya menekan munculnya titik api baru. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar dinilai menjadi kunci utama dalam memutus siklus karhutla tahunan.

Dampak pada Aktivitas dan Imbauan

Kabut asap juga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi, khususnya penerbangan dan pelayaran di wilayah terdampak. Jarak pandang yang menurun dapat memengaruhi jadwal keberangkatan, sehingga otoritas terkait umumnya meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan kondisi cuaca secara berkala.

Menghadapi kondisi kabut asap yang masih berpotensi berlanjut, masyarakat diimbau untuk memantau informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan titik panas. Penggunaan masker, penutupan jendela rumah, serta pengurangan aktivitas luar ruangan menjadi langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko paparan asap. Instansi pendidikan juga diimbau menyesuaikan kegiatan siswa dengan kondisi kualitas udara setempat.

Data dan informasi perkembangan karhutla serta kualitas udara dapat diakses melalui kanal resmi instansi terkait, sehingga warga tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pemantauan berkala terhadap kondisi cuaca dan penyebaran asap tetap menjadi acuan utama dalam menentukan langkah mitigasi.

Dengan penanganan yang terkoordinasi dan partisipasi masyarakat, penyebaran kabut asap diharapkan dapat ditekan. Namun, selama musim kemarau masih berlangsung, kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan tetap harus dijaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
dina-aulia

Reporter Investigasi. Meliput isu lingkungan, tambang ilegal, dan deforestasi.

Comments (0)

User