Sudaryono Resmi Pimpin BGN, Gantikan Nanik S Deyang

Pemerintah kembali melakukan penyegaran di jajaran pimpinan lembaga negara. Kali ini, Badan Geologi Nasional (BGN) mendapat nahkoda baru, Sudaryono, yang ditunjuk langsung untuk menggantikan Nanik S D...

Sudaryono Resmi Pimpin BGN, Gantikan Nanik S Deyang

Pemerintah kembali melakukan penyegaran di jajaran pimpinan lembaga negara. Kali ini, Badan Geologi Nasional (BGN) mendapat nahkoda baru, Sudaryono, yang ditunjuk langsung untuk menggantikan Nanik S Deyang. Pengangkatan ini menuai perhatian publik karena BGN memegang peran strategis dalam pengelolaan data geologi, mitigasi bencana, dan eksplorasi sumber daya alam.

Proses transisi kepemimpinan di lingkungan BGN berlangsung dalam sebuah seremoni singkat yang digelar di kantor pusat BGN. Dalam sambutannya, Sudaryono menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program kerja yang telah dirintis pendahulunya, sekaligus membawa penyempurnaan di sejumlah sektor prioritas. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antar instansi dalam menjawab tantangan geologi nasional.

Latar Belakang dan Pendidikan

Sudaryono lahir di Yogyakarta pada 15 Maret 1968. Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di kota kelahirannya sebelum melanjutkan studi tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di kampus bergengsi tersebut, ia meraih gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1991. Ketertarikannya pada bidang kebencanaan dan sumber daya mineral mendorongnya untuk mengambil program magister di universitas yang sama, lulus dengan predikat cum laude pada 1996.

Tidak berhenti di situ, Sudaryono juga menyelesaikan program doktoral di Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam bidang manajemen kebencanaan pada 2003. Disertasinya yang membahas sistem peringatan dini tanah longsor di kawasan rawan menjadi rujukan di kalangan praktisi. Selain itu, ia aktif mengikuti pelatihan internasional, termasuk di Jepang dan Selandia Baru, yang memperkuat kapasitasnya dalam pengelolaan risiko geologi.

Karier Panjang di Pemerintahan

Karier Sudaryono di sektor pemerintahan dimulai pada tahun 1994 sebagai staf teknis di Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG). Ketekunannya mengantarkannya pada posisi Kepala Seksi Pemantauan Gunung Api pada 2001. Selama menjabat, ia terlibat langsung dalam penanganan erupsi Merapi 2006 yang berhasil meminimalkan korban jiwa berkat sistem evakuasi dini yang ia gagas.

Pada 2010, ia dipercaya sebagai Kepala Bidang Mitigasi Bencana Geologi di Badan Geologi, kemudian pada 2015 menjabat sebagai Direktur Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan. Di posisi ini, ia merintis program pemetaan risiko gempa bumi di wilayah perkotaan yang kemudian diadopsi oleh beberapa pemerintah daerah. Jelang pengangkatannya sebagai Kepala BGN, Sudaryono menjabat sebagai Sekretaris Utama Badan Geologi Nasional sejak 2021, membawahi koordinasi kebijakan strategis dan reformasi birokrasi.

Berbagai penghargaan telah diterima, antara lain Satyalancana Karya Satya (2008) dan Penghargaan Dharma Karya Geologi (2019) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Rekam jejaknya dianggap selaras dengan kebutuhan BGN yang menghadapi tantangan kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga permintaan data geologi yang akurat untuk investasi.

Tugas dan Tantangan di BGN

Sebagai Kepala BGN yang baru, Sudaryono mengemban mandat untuk memperkuat fungsi BGN dalam tiga pilar utama: eksplorasi dan inventarisasi sumber daya geologi, mitigasi bencana, serta pelayanan informasi geologi kepada publik. Dalam pidato perdananya, ia menyoroti urgensi digitalisasi data geologi nasional agar lebih mudah diakses oleh masyarakat dan investor.

Tantangan terbesar yang menanti adalah menyelaraskan kepentingan ekonomi dan kelestarian lingkungan dalam pemanfaatan sumber daya alam. Sudaryono dikenal sebagai figur yang mendorong prinsip pembangunan berkelanjutan dan telah beberapa kali menyuarakan pentingnya analisis geologi dalam tata ruang wilayah. Di bawah kepemimpinannya, BGN diharapkan mampu menghasilkan peta geologi detail skala 1:50.000 untuk seluruh Indonesia pada tahun 2027, sesuai target Rencana Strategis Kementerian ESDM.

Selain itu, BGN juga dihadapkan pada peningkatan frekuensi bencana geologi seperti gempa bumi tektonik dan gerakan tanah. Sudaryono menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang terintegrasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi adalah kunci agar risiko bencana dapat diminimalkan,” ujarnya usai serah terima jabatan.

Respons Internal dan Harapan

Kalangan internal BGN menyambut positif penunjukan Sudaryono. Seorang pejabat senior yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa Sudaryono merupakan sosok yang paham seluk-beluk organisasi dan memiliki visi yang jelas. “Beliau sudah lama berkecimpung di bidang ini dan dipercaya dapat melanjutkan program tanpa gejolak,” tuturnya.

Di sisi lain, pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Dr. Hendro Susilo, menilai bahwa penggantian ini merupakan bagian dari upaya penyegaran institusi yang lebih responsif terhadap dinamika global. “Pak Sudaryono membawa pengalaman internasional yang relevan, terutama dalam standarisasi data geologi. Ini penting untuk menarik investasi sektor pertambangan yang bertanggung jawab,” jelas Hendro.

Dengan pengangkatan ini, Sudaryono menjadi Kepala BGN ke-6 sejak lembaga ini berdiri pada tahun 2000. Pendahulunya, Nanik S Deyang, memasuki masa pensiun setelah lima tahun menjabat dan dinilai berhasil meletakkan fondasi reformasi birokrasi di tubuh BGN. Kini, tugas berat menanti Sudaryono untuk menavigasi BGN di tengah perubahan iklim dan tuntutan transparansi data yang semakin tinggi. Publik menantikan gebrakan nyata dalam waktu dekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User