Salah Kaprah Diabetes Kering dan Basah Menurut Fakta Medis

Klaim bahwa penyakit diabetes mellitus terbagi menjadi dua jenis, yakni “diabetes kering” dan “diabetes basah”, telah lama beredar luas di masyarakat Indonesia. Istilah ini kerap dipakai untuk...

Salah Kaprah Diabetes Kering dan Basah Menurut Fakta Medis

Klaim bahwa penyakit diabetes mellitus terbagi menjadi dua jenis, yakni “diabetes kering” dan “diabetes basah”, telah lama beredar luas di masyarakat Indonesia. Istilah ini kerap dipakai untuk membedakan penyandang diabetes yang memiliki luka terbuka dengan yang tidak. Berdasarkan verifikasi terhadap literatur medis dan klasifikasi resmi dari sumber-sumber terpercaya, anggapan tersebut tidak akurat. Faktanya adalah dunia kedokteran tidak mengenal pembagian diabetes berdasarkan kondisi luka, melainkan berdasarkan mekanisme penyakit yang mendasarinya.

Klaim dan Sumber Klaim

Klaim yang beredar menyebut bahwa “diabetes kering” adalah kondisi gula darah tinggi tanpa luka, sementara “diabetes basah” ditandai dengan luka yang tidak kunjung sembuh, bernanah, hingga berbau. Narasi ini tersebar melalui percakapan sehari-hari, pesan berantai, dan unggahan media sosial yang kerap dijadikan rujukan kesehatan. Pertanyaannya, apakah istilah ini diakui dalam standar medis? Sumber resmi seperti Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia yang diterbitkan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) menunjukkan jawaban yang berbeda.

Klasifikasi Diabetes Menurut Kedokteran

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam dokumen Classification of Diabetes Mellitus edisi 2019 membagi diabetes menjadi diabetes tipe 1, tipe 2, diabetes gestasional, serta tipe spesifik lain yang dipicu faktor genetik atau penyakit tertentu. American Diabetes Association (ADA) melalui Standards of Care in Diabetes menerapkan kerangka serupa. Tidak satu pun dari dokumen tersebut memuat kategori “kering” atau “basah”. Konsensus PERKENI 2021 juga hanya merujuk pada pembagian tipe 1 dan tipe 2 dalam tata laksana di Indonesia. Dengan demikian, klaim bahwa kering dan basah merupakan jenis diabetes bertentangan dengan klasifikasi medis yang berlaku.

Lalu dari mana istilah ini berasal? Dalam dunia kedokteran, istilah kering dan basah memang dikenal, tetapi untuk menggambarkan gangren, bukan jenis diabetes. Gangren kering terjadi akibat penyumbatan aliran darah tanpa disertai infeksi sehingga jaringan mengering dan mengerut. Adapun gangren basah ditandai infeksi, jaringan membusuk, mengeluarkan nanah, dan penyebarannya lebih cepat. Pada penyandang diabetes, luka yang tidak dirawat dapat berkembang menjadi ulkus kaki diabetik lalu berlanjut menjadi gangren. Masyarakat kemudian menyederhanakan kondisi ini menjadi istilah “diabetes kering” dan “diabetes basah”. Penyederhanaan inilah akar salah kaprah yang terus diwariskan.

Data dan Bahaya Salah Kaprah

Data menunjukkan beban diabetes di Indonesia sangat besar. Riskesdas 2018 mencatat prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas sebesar 2 persen berdasarkan diagnosis dokter, dan melonjak menjadi 10,9 persen berdasarkan pemeriksaan gula darah. International Diabetes Federation (IDF) dalam Diabetes Atlas edisi ke-10 memperkirakan sekitar 537 juta orang dewasa di dunia hidup dengan diabetes pada 2021, dengan Indonesia menempati peringkat kelima negara berjumlah penyandang terbanyak.

Salah kaprah “diabetes kering” berbahaya karena memberi rasa aman palsu. Penyandang diabetes tanpa luka kerap merasa tidak perlu kontrol rutin, padahal kerusakan saraf dan pembuluh darah tetap berjalan diam-diam. Sebaliknya, penyandang yang disebut “diabetes basah” sering menunda penanganan medis dan beralih ke pengobatan yang belum terbukti. IDF memperkirakan satu tungkai diamputasi setiap 30 detik di dunia akibat komplikasi diabetes, dan lebih dari separuh amputasi non-traumatik terjadi pada penyandang diabetes. Ulkus kaki diabetik diperkirakan dialami 15 hingga 25 persen penyandang diabetes sepanjang hidupnya. Angka-angka ini membuktikan bahwa yang membedakan kondisi pasien adalah komplikasi luka, bukan jenis penyakitnya.

Kesimpulan Verifikasi

Berdasarkan verifikasi terhadap klasifikasi WHO, panduan ADA, dan konsensus PERKENI, tidak ditemukan bukti bahwa “diabetes kering” dan “diabetes basah” adalah jenis diabetes. Istilah tersebut tidak akurat sebagai istilah medis dan menyesatkan bila dijadikan dasar diagnosis. Klasifikasi yang benar adalah diabetes tipe 1, tipe 2, gestasional, dan tipe spesifik lain, sedangkan luka atau gangren merupakan komplikasi yang dapat muncul pada penyandang diabetes yang tidak terkontrol. Verifikasi menyimpulkan klaim ini SALAH karena tidak didukung sumber resmi, meskipun terdapat benih kebenaran pada istilah gangren kering dan basah yang kemudian disalahartikan. Masyarakat diimbau memeriksakan kadar gula darah secara rutin dan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan saat muncul luka, tanpa menunggu istilah “basah” terlebih dahulu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
ramadiansyah

Editor Investigasi. Pemenang penghargaan jurnalisme investigasi. Spesialisasi: korupsi, kolusi, dan maladministrasi.

Comments (0)

User