Puncak tertinggi di Indonesia yang menjulang di Pegunungan Sudirman, Papua, menyimpan persoalan penamaan yang berlapis. Masyarakat adat setempat telah lama menyebutnya Nemangkawi Ninggok, namun dalam perjalanan sejarah muncul sejumlah nama lain yang datang dari luar. Berdasarkan penelusuran dokumen dan catatan resmi, terjadi pergeseran penyebutan yang menimbulkan pertanyaan soal pengakuan terhadap identitas lokal.
Klaim bahwa nama asli puncak tersebut adalah Nemangkawi bukan sekadar cerita lisan. Nama itu hidup dalam praktik budaya masyarakat Amungme dan sejumlah kelompok adat di sekitarnya. Persoalannya, nama ini kemudian nyaris tidak terdengar dalam peta internasional maupun dokumen administrasi negara.
Asal-Usul Nama Nemangkawi
Menurut catatan antropologis dan kesaksian masyarakat adat, Nemangkawi Ninggok merujuk pada puncak bersalju yang dianggap sakral. Kata itu bukan sekadar penanda geografis, melainkan bagian dari sistem kepercayaan dan kosmologi lokal. Berdasarkan verifikasi terhadap berbagai sumber etnografi, nama ini digunakan turun-temurun jauh sebelum kedatangan penjelajah asing.
Klaim: Nemangkawi adalah nama asli puncak tersebut. Fakta: Nama ini tercatat dalam tradisi lisan dan sejumlah kajian budaya sebagai penyebutan masyarakat adat, meski tidak dipakai dalam dokumen resmi negara.
Faktanya adalah, keberadaan nama Nemangkawi tidak pernah benar-benar dihapus dari ingatan kolektif. Yang terjadi adalah pengabaian dalam pencatatan formal. Data menunjukkan bahwa peta-peta modern lebih sering memuat nama lain, sementara penyebutan Nemangkawi bertahan di ruang budaya dan ritual.
Masuknya Nama Carstensz dan Puncak Jaya
Nama Carstensz muncul dari ekspedisi penjelajah asal Eropa pada abad ke-17. Penamaan ini bertentangan dengan praktik lokal karena diberikan tanpa merujuk pada penyebutan masyarakat setempat. Sumber resmi kolonial mencatat nama tersebut sebagai penghormatan kepada sang penjelajah, bukan berdasarkan konsultasi dengan penduduk asli.
Setelah Indonesia merdeka, negara memakai nama Puncak Jaya. Kebijakan ini tertuang dalam berbagai dokumen pemerintahan dan peta nasional. Berdasarkan verifikasi, nama Puncak Jaya dipilih sebagai bagian dari penegasan kedaulatan dan identitas nasional. Namun, proses ini dinilai sebagian pihak tidak cukup melibatkan masyarakat adat pemilik wilayah.
Klaim: Negara mengganti nama Nemangkawi menjadi Puncak Jaya. Fakta: Puncak Jaya adalah nama resmi negara, sementara Nemangkawi tetap dipakai masyarakat adat. Keduanya hidup berdampingan, bukan saling menghapus secara total.
Data menunjukkan adanya tiga lapis penamaan: Nemangkawi dari tradisi lokal, Carstensz dari warisan kolonial, dan Puncak Jaya dari administrasi negara. Situasi ini menyesatkan bila disederhanakan menjadi sekadar kisah "penghapusan" oleh satu pihak saja.
Verifikasi Klaim Penghapusan
Klaim bahwa Nemangkawi "dihapus" perlu diperiksa secara kritis. Tidak ditemukan bukti bahwa ada kebijakan resmi yang secara eksplisit melarang penggunaan nama Nemangkawi. Yang ada adalah praktik pengabaian dan dominasi nama resmi dalam dokumen negara. Ini lebih tepat disebut pengabaian sistematis ketimbang pelarangan langsung.
Meski demikian, dampaknya nyata. Dalam peta resmi, dokumen pendidikan, dan publikasi internasional, nama Nemangkawi nyaris tidak muncul. Kondisi ini bertentangan dengan prinsip pengakuan hak budaya masyarakat adat. Berdasarkan verifikasi, absennya nama lokal dalam dokumen resmi memperkuat kesan bahwa identitas asli tergerus oleh penamaan dari luar.
Kesimpulan
Klaim bahwa Nemangkawi dihapus dari puncak bersalju Papua tergolong SEBAGIAN BENAR. Nama Nemangkawi memang tidak hilang dari masyarakat adat, tetapi penggunaannya terpinggirkan dalam dokumen resmi dan peta. Bukti menunjukkan dominasi nama Carstensz secara historis dan Puncak Jaya secara administratif, sementara Nemangkawi bertahan di ruang budaya.
Verifikasi menyimpulkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal nama, melainkan soal pengakuan. Data resmi dan sumber budaya menunjukkan adanya ketimpangan antara penyebutan lokal dan penyebutan negara. Faktanya adalah, selama nama Nemangkawi tidak diakomodasi dalam pencatatan formal, klaim penghapusan simbolik akan terus muncul dan sulit dibantah sepenuhnya.
Comments (0)