Pesan Miguel Pereira Usai Kalahkan Persija Jadi Analogi Move On
SURABYA — Persebaya Surabaya sukses mengawali langkah di Piala Presiden 2026 dengan kemenangan tipis 1-0 atas Persija Jakarta, namun yang lebih menarik per
SURABYA — Persebaya Surabaya sukses mengawali langkah di Piala Presiden 2026 dengan kemenangan tipis 1-0 atas Persija Jakarta, namun yang lebih menarik perhatian adalah pernyataan mentalitas sang pelatih kepala, Miguel Pereira. Di tengah euforia publik, Pereira justru mengeluarkan pesan yang tak hanya relevan di atas lapangan, melainkan juga bisa menjadi metafora tajam bagi mereka yang sedang berjuang melupakan mantan kekasih: tetap bekerja keras meski hati terluka.
Laga yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo pada Sabtu malam (14/6/2026) itu memang hanya menghasilkan satu gol lewat sepakan keras Marselino Ferdinan di menit ke-63. Namun, perjuangan Green Force bukan sekadar soal teknis sepak bola. Pereira dalam konferensi pers seusai pertandingan menegaskan bahwa fondasi kemenangan bukanlah bakat individu, melainkan etos kerja tanpa henti — sebuah sikap mental yang ternyata disarankan pula oleh para psikolog sebagai kunci melangkah maju dari hubungan masa lalu.
Pereira: Kerja Keras Adalah Harga Mati
Di hadapan wartawan, Pereira yang musim ini kembali menukangi Bajul Ijo untuk periode ketiga, menyampaikan pesan tanpa basa-basi. Ia tidak ingin anak asuhnya cepat berpuas diri.
“Kemenangan ini baru langkah pertama. Kami tidak bisa hanya mengandalkan satu momen bagus. Saya bilang ke pemain, ini tentang konsistensi mental. Jika mereka ingin trofi, mereka harus bekerja keras setiap hari, setiap sesi latihan, setiap menit bertanding. Tidak ada ruang untuk kenangan indah masa lalu — fokus pada apa yang bisa kita bangun sekarang,” ujar Pereira.
Pernyataan itu terdengar lugas, namun memiliki irisan kuat dengan prinsip psikologi modern dalam menghadapi rasa kehilangan. Menurut psikolog klinis Dr. Andini Rahmawati, M.Psi., yang kami hubungi terpisah, semangat ‘kerja keras’ yang dimaksud Pereira sebenarnya adalah cerminan dari strategi peningkatan self-efficacy dan orientasi masa depan yang kerap direkomendasikan kepada klien dengan masalah patah hati kronis. “Orang yang terus memikirkan mantan biasanya terjebak dalam siklus pasif. Mereka merenung, tetapi tidak bertindak konstruktif. Pesan seperti yang disampaikan Pereira bisa menjadi pemicu perubahan perilaku,” jelasnya.
Mengapa Kita Sulit Lepas dari Kenangan Mantan?
Fenomena sulit berhenti memikirkan mantan bukan semata-mata soal lemahnya hati. Dr. Andini merangkum tujuh penyebab psikologis utama yang sering membuat seseorang terjebak dalam pusaran masa lalu:
- 1. Ikatan neurokimia yang belum putus. Otak melepaskan dopamin saat bersama mantan, mirip efek zat adiktif. Putus cinta memicu gejala sakau emosional yang nyata.
- 2. Idealisme kenangan (rosy retrospection). Pikiran cenderung membesar-besarkan momen positif dan mengabaikan konflik yang memicu perpisahan.
- 3. Ketidaklengkapan identitas diri. Banyak orang mendefinisikan diri lewat pasangan; ketika hubungan berakhir, mereka kehilangan separuh “siapa saya”.
- 4. Takut menghadapi kesendirian. Rasa sepi dipersepsi sebagai ancaman, sehingga otak merindukan kehadiran mantan sebagai pelarian.
- 5. Belum adanya resolusi emosional. Hubungan yang berakhir menggantung atau tanpa penjelasan memaksa otak untuk terus mencari closure secara obsesif.
- 6. Lingkaran sosial yang sama. Teman bersama, tempat favorit, hingga pola komunikasi digital membuat mantan seolah “hadir” setiap hari.
- 7. Kebiasaan merenung berulang (ruminasi). Alih-alih mengambil pelajaran, seseorang hanya memutar ulang skenario “seandainya” yang tidak produktif.
Tujuh alasan di atas menjelaskan mengapa memutuskan untuk move on tidak cukup hanya dengan niat. Diperlukan tindakan nyata yang disiplin — persis seperti prinsip “kerja keras setiap hari” yang digaungkan Pereira.
Kerja Keras ala Persebaya: Resep Move On dari Lapangan Hijau
Menurut Dr. Andini, pendekatan atlet profesional seperti Persebaya bisa diadaptasi. “Dalam sepak bola, pemain tidak mungkin terus menatap papan skor pertandingan lama. Mereka harus segera recovery, evaluasi taktik, lalu berlatih lagi. Itu yang jarang dilakukan orang patah hati — mereka malah menonton ulang ‘highlight’ kenangan tanpa menyusun strategi baru,” urainya.
Pereira sendiri memberikan contoh konkret: setelah laga, ia langsung meminta anak buahnya menganalisis rekaman pertandingan, mencari celah, dan menetapkan target latihan spesifik untuk laga berikutnya melawan Arema FC. Tidak ada waktu untuk larut dalam selebrasi. Begitu pula dalam dunia pemulihan patah hati: jadwalkan aktivitas baru yang menguras energi positif, tetapkan tujuan kecil harian, dan disiplin menghindari “nonton ulang” media sosial mantan. “Otak butuh latihan pengganti agar jalur saraf dopamin yang lama bisa dilemahkan,” tambah psikolog tersebut.
Pola pikir “pekerja keras” yang ditanamkan Pereira terbukti efektif. Musim lalu, Persebaya nyaris terdegradasi; kini mereka tampil berbeda karena fondasi mental ditata ulang. Paralel dengan kehidupan asmara, masa lalu yang menyakitkan harus dijadikan bahan evaluasi, bukan pelarian. Jika Green Force bisa bangkit dari keterpurukan lewat disiplin dan fokus, setiap individu pun sanggup menulis ulang narasi kebahagiaan tanpa bergantung pada bayang-bayang mantan.
Kesimpulannya, ajakan Miguel Pereira memang terdengar untuk lapangan hijau, tetapi getarannya sampai ke bilik-bilik hati yang retak. Move on bukanlah sihir; ia adalah hasil dari kerja keras emosional yang konsisten, pengelolaan fokus, dan keberanian meninggalkan kenangan yang hanya menjadi jangkar. Laga berikutnya sudah menanti, baik di kalender Piala Presiden maupun di lembaran baru kehidupan pribadi Anda.
[SOCIAL_TWEET]: Miguel Pereira punya pesan penting: kerja keras adalah kunci menang, baik di lapangan maupun melawan bayang-bayang mantan. Yuk, belajar move on dari skuad Persebaya! #Persebaya #PialaPresiden2026 #MoveOn[SOCIAL_TG]: ⚽️💔 Miguel Pereira: Kerja Keras di Lapangan = Kunci Move On dari Mantan? Usai Persebaya kalahkan Persija 1-0, sang pelatih menekankan pentingnya fokus dan disiplin mental — prinsip yang menurut psikolog bisa menyembuhkan patah hati. Simak 7 alasan kenapa kamu sulit melupakan mantan dan cara melawannya dengan strategi ala atlet profesional.
Comments (0)