Penyidik Telusuri Bukti di Klinik Mordent Terkait Tewasnya Sutrimo
Pihak kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Klinik Mordent, Surabaya, guna mengungkap kematian Sutrimo, seorang pria yang diduga memiliki hubungan dekat dengan pemilik klinik, Feb...
Pihak kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Klinik Mordent, Surabaya, guna mengungkap kematian Sutrimo, seorang pria yang diduga memiliki hubungan dekat dengan pemilik klinik, Febrie Adriansyah. Langkah ini diambil menyusul kematian Sutrimo yang mendadak dan masih menyisakan tanda tanya besar, sehingga memicu desakan publik agar polisi bertindak cepat.
Kronologi Kematian yang Mengejutkan
Sutrimo, 42 tahun, ditemukan tewas di salah satu ruang perawatan Klinik Mordent pada Selasa malam sekitar pukul 21.30 WIB. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa korban sebelumnya datang seorang diri untuk menjalani prosedur perawatan gigi yang telah dijadwalkan. Namun, kurang dari satu jam setelah masuk ke ruang praktik, ia dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis yang bertugas.
Pihak klinik segera melaporkan kejadian itu ke Polrestabes Surabaya. Hingga kini, penyebab pasti kematian belum terungkap. “Kami masih menunggu hasil visum dan autopsi dari tim forensik. Sementara ini, kami belum bisa menyimpulkan apakah ini murni kecelakaan medis atau ada unsur kesengajaan,” ujar seorang sumber di kepolisian yang enggan disebutkan namanya.
Hubungan Khusus dengan Figur Kontroversial
Yang membuat kasus ini semakin kompleks adalah status Sutrimo yang disebut-sebut sebagai orang dekat Febrie Adriansyah, pendiri sekaligus dokter gigi utama di Klinik Mordent. Febrie dikenal memiliki rekam jejak yang cukup kontroversial. Sebelumnya, ia pernah tersangkut kasus plagiarisme di dunia akademik yang sempat menghebohkan publik. Meski demikian, ia tetap menjalankan praktik kedokteran gigi dan membangun Klinik Mordent dengan reputasi yang masih diperdebatkan.
Kedekatan antara Sutrimo dan Febrie memunculkan dugaan bahwa korban mungkin menerima perlakuan khusus selama berada di dalam klinik. Spekulasi berkembang liar di media sosial, mulai dari kemungkinan malpraktik hingga skenario yang lebih gelap, seperti perselisihan pribadi atau motif finansial. Polisi enggan terpancing spekulasi dan berjanji akan bekerja secara transparan. “Kami tidak akan terpengaruh opini publik. Semua akan kami buktikan berdasarkan fakta dan alat bukti sah,” tegas Kapolrestabes Surabaya dalam keterangan pers singkat.
Tim Forensik Lakukan Pencarian Bukti Intensif
Dalam olah TKP yang berlangsung selama lebih dari empat jam pada Rabu pagi, tim Inafis Polrestabes Surabaya menyegel seluruh area klinik. Mereka mengamankan sejumlah barang bukti krusial, antara lain rekaman kamera pengawas dari tiga sudut berbeda, alat-alat kedokteran gigi yang diduga digunakan pada korban, serta dokumen rekam medis Sutrimo yang tertera di sistem digital klinik.
Tak hanya itu, petugas juga mengumpulkan sampel dari lantai dan dinding ruang perawatan untuk mendeteksi kemungkinan adanya bercak darah atau cairan tubuh lain yang relevan. “Kami akan meneliti setiap bukti secara cermat dengan metode ilmiah, termasuk memeriksa apakah ada kelalaian atau unsur kesengajaan dalam peristiwa ini,” kata seorang perwira yang memimpin langsung operasi tersebut. Polisi juga meminta keterangan dari enam orang saksi, termasuk perawat, asisten dokter, dan petugas administrasi yang sedang berdinas saat kejadian.
Sampel cairan dan jaringan tubuh korban telah dikirim ke laboratorium forensik Polda Jatim untuk mendeteksi kemungkinan adanya zat beracun atau anestesi dalam kadar yang tidak semestinya. “Hasil uji toksikologi akan menjadi kunci penting dalam penyelidikan ini,” tambah sumber di laboratorium.
Jejak Komunikasi dan Motif Tersembunyi
Tidak hanya bukti fisik, penyidik dari Unit Kriminal Umum juga tengah menelusuri rekam komunikasi antara Sutrimo dan Febrie Adriansyah dalam beberapa hari terakhir. Langkah ini diambil setelah muncul dugaan bahwa keduanya sempat terlibat perselisihan bisnis yang memanas. Beberapa pesan singkat yang berhasil diakses sementara menunjukkan adanya ketegangan finansial, meskipun polisi belum mengonfirmasi isinya secara rinci.
Seorang tetangga korban yang diwawancarai secara terpisah mengaku terakhir kali melihat Sutrimo dalam kondisi gelisah, dua hari sebelum kematiannya. “Dia sering cerita soal tekanan dari teman bisnisnya. Mukanya lesu dan sering melamun,” ujar tetangga itu. Namun, ia tidak bisa memastikan apakah yang dimaksud adalah Febrie atau pihak lain.
Respons Klinik, Keluarga, dan Arah Penyelidikan
Hingga berita ini ditulis, Febrie Adriansyah belum memberikan pernyataan resmi kepada media. Melalui kuasa hukumnya, ia menyatakan akan kooperatif dalam proses penyelidikan. Klinik Mordent sendiri telah ditutup sementara dan papan pengumuman kecil terpampang di pintu masuk dengan tulisan: “Maaf, praktik sementara dialihkan. Info lebih lanjut hubungi nomor admin.”
Di sisi lain, keluarga Sutrimo mendesak polisi segera mengungkap fakta sebenarnya. “Adik kami tidak punya riwayat penyakit serius. Dia selalu menjaga kesehatan. Kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam klinik itu,” kata kakak kandung Sutrimo dengan nada bergetar saat ditemui di rumah duka.
Polda Jatim telah membentuk tim khusus beranggotakan delapan penyidik berpengalaman untuk menangani kasus ini. Kabid Humas Polda Jatim menegaskan, “Kami akan bekerja maksimal dan tidak akan menutup-nutupi apa pun. Kasus ini menjadi perhatian pimpinan, dan kami targetkan dalam 30 hari ke depan sudah ada titik terang.”
Saat ini, publik masih menanti hasil autopsi dan uji forensik yang diharapkan bisa menjawab teka-teki di balik kematian Sutrimo. Kasus ini bukan hanya tentang malpraktik, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Klinik Mordent yang sebelumnya dikenal sebagai tempat praktik eksklusif kini berada di bawah sorotan tajam. Apakah kematian Sutrimo murni kecelakaan atau ada tangan yang sengaja bermain? Waktulah yang akan membuktikan.
Comments (0)