PBNU Baru Dituntut Gagasan Jawab Perubahan di Muktamar Jombang
JOMBANG — Perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, bukan sekadar agenda rutin organisasi. Dalam pandangan sejumlah pengamat, muktamar kali ini menjadi tonggak penting bagi pr...
JOMBANG — Perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, bukan sekadar agenda rutin organisasi. Dalam pandangan sejumlah pengamat, muktamar kali ini menjadi tonggak penting bagi proses reorganisasi internal jam'iyah sekaligus peneguhan kembali khittah perjuangan organisasi yang telah berusia hampir satu abad.
Gelaran yang mempertemukan para kiai, ulama, dan pengurus dari seluruh cabang di Indonesia itu dinilai sebagai ruang evaluasi terhadap perjalanan organisasi selama satu periode kepengurusan. Berbagai persoalan internal yang mengemuka di tengah masyarakat membutuhkan jawaban yang sistematis, bukan sekadar retorika belaka.
Reorganisasi di Tengah Perubahan Zaman
Merujuk pada berbagai pernyataan resmi menjelang muktamar, kebutuhan reorganisasi muncul dari kenyataan bahwa struktur NU yang sangat besar menuntut tata kelola yang lebih modern. Sebagai organisasi kemasyarakatan dengan jutaan anggota, NU menghadapi tantangan dalam hal pendataan anggota, kaderisasi, hingga pengelolaan badan otonom.
Perubahan yang terjadi di internal NU akhir-akhir ini, termasuk dinamika di tubuh pengurus besar, menuntut adanya pembenahan menyeluruh. Reorganisasi tidak hanya dimaknai sebagai penataan ulang struktur, tetapi juga penyegaran cara kerja, penguatan sistem administrasi, dan peningkatan kapasitas pengurus di semua lini.
Dalam konteks inilah muktamar menjadi panggung bagi lahirnya kepengurusan baru yang diharapkan mampu merespons kebutuhan zaman tanpa meninggalkan identitas organisasi. Konsolidasi organisasi menjadi kata kunci yang terus mengemuka dalam diskursus menjelang muktamar.
Gagasan Calon Ketua Umum Menjadi Ujian
Salah satu sorotan utama muktamar adalah kontestasi menuju kursi Ketua Umum PBNU. Para calon yang maju tidak cukup hanya mengandalkan dukungan atau popularitas. Faktanya adalah, publik dan para pemegang hak suara menuntut gagasan yang matang dan terukur dari setiap kandidat.
Klaim bahwa muktamar hanya dimenangkan oleh mereka yang memiliki jaringan luas tidak sepenuhnya akurat. Sebab, dalam praktiknya, gagasan menjadi pembeda utama di antara para kandidat. Calon ketua umum dituntut menghadirkan visi yang menjawab berbagai perubahan yang terjadi di tubuh NU saat ini, mulai dari persoalan pendidikan pesantren, ekonomi umat, hingga posisi NU dalam kehidupan kebangsaan.
Gagasan tersebut tidak boleh berhenti pada tataran wacana. Para kandidat perlu merumuskan program kerja yang konkret dan terukur, lengkap dengan peta jalan pelaksanaannya. Dengan begitu, pemilih memiliki pijakan yang jelas dalam menentukan pilihan, bukan sekadar berdasarkan pertimbangan simbolis.
Momentum muktamar juga menjadi ujian kedewasaan berorganisasi. Proses pemilihan yang sehat, terbuka, dan beradab akan menjadi teladan bagi seluruh warga NU di tingkat bawah. Sebaliknya, dinamika yang tidak sehat berpotensi meninggalkan luka dan mengganggu konsolidasi pascamuktamar.
Kembali ke Khittah
Isu kembalinya NU ke khittah menjadi benang merah yang menghiasi diskursus muktamar. Khittah NU yang dirumuskan pada 1926 menegaskan komitmen organisasi dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi, sekaligus menjaga jarak dari politik praktis.
Kembali ke khittah berarti menegaskan kembali posisi NU sebagai jam'iyah diniyah ijtima'iyah. Organisasi hadir untuk melayani umat melalui penguatan pendidikan di pesantren, pemberdayaan ekonomi warga, serta dakwah yang menyejukkan. Hal ini bertentangan dengan kecenderungan sebagian kalangan yang ingin menjadikan organisasi sebagai alat kepentingan sesaat.
Para calon ketua umum yang memiliki pemahaman mendalam tentang khittah akan lebih mudah mengarahkan organisasi pada pelayanan umat yang sesungguhnya. Peneguhan khittah bukan berarti anti terhadap perubahan, melainkan justru menjadi kompas agar perubahan yang dilakukan tidak keluar dari rel perjuangan organisasi.
Tantangan Kepengurusan ke Depan
Kepengurusan baru hasil muktamar akan menghadapi sederet tantangan yang tidak ringan. Pertama, regenerasi kepemimpinan di semua tingkatan. Kedua, respons terhadap digitalisasi dakwah dan pendidikan. Ketiga, penguatan ekonomi warga di tengah tekanan ekonomi nasional.
Selain itu, pengurus baru juga dituntut menjaga netralitas dan independensi organisasi dalam setiap kontestasi politik. Data menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap organisasi keagamaan sangat dipengaruhi oleh konsistensi sikap dan perilaku para pengurusnya.
Dengan demikian, muktamar di Jombang tidak cukup diukur dari suksesnya acara. Ukuran sesungguhnya adalah bagaimana hasil muktamar mampu menjawab persoalan umat dan membawa NU pada posisi yang semakin relevan di tengah perubahan zaman.
Harapan besar masyarakat disematkan kepada para pemimpin baru. Reorganisasi yang sungguh-sungguh, gagasan yang membumi, dan komitmen terhadap khittah menjadi tiga pilar yang akan menentukan wajah NU pada periode kepengurusan berikutnya.
Comments (0)