Pawai Kampanye Damai di Monas Diwarnai Ondel-Ondel dan Kotak Suara
Monumen Nasional (Monas) menjadi saksi perhelatan akbar Deklarasi Kampanye Damai yang digelar pada Minggu, 23 September 2018. Ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat tumpah ruah mengikuti pawai ...
Monumen Nasional (Monas) menjadi saksi perhelatan akbar Deklarasi Kampanye Damai yang digelar pada Minggu, 23 September 2018. Ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat tumpah ruah mengikuti pawai di kawasan ring satu ibu kota, menyambut tahapan kampanye Pemilu 2019 dengan semangat persaudaraan dan keberagaman. Cuaca cerah yang menyelimuti Jakarta pagi itu seolah turut mendukung suasana penuh optimisme tersebut. Para peserta yang datang sejak pukul 06.00 WIB memadati area sekitar Monas, lalu bergerak dalam arak-arakan sepanjang Jalan Medan Merdeka hingga Jalan MH Thamrin. Panitia mencatat, sedikitnya 5.000 orang turut ambil bagian dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), serta sejumlah elemen masyarakat sipil.
Iring-iringan Budaya dan Simbol Pemilu
Berbeda dari deklarasi pada umumnya yang cenderung kaku dan seremonial, pawai kali ini dikemas dengan sentuhan seni budaya yang kental. Salah satu atraksi yang paling menyita perhatian adalah kehadiran karakter badut berukuran besar yang didesain menyerupai kotak suara KPU. Badut dengan tinggi mencapai dua meter itu berjalan di barisan terdepan sambil melambaikan tangan kepada penonton. Desainnya sangat detail, lengkap dengan tulisan "KPU" dan kelir khas putih-biru, sehingga mengingatkan setiap orang akan pentingnya kotak suara sebagai instrumen utama demokrasi.
Tak ketinggalan, pasangan ondel-ondel khas Betawi ikut meramaikan iring-iringan. Boneka raksasa setinggi tiga meter dengan wajah seram namun jenaka itu berputar-putar di tengah jalan, diiringi alunan musik tanjidor. Kehadiran ondel-ondel menjadi simbol kuat bahwa pesta demokrasi ini milik semua warga, termasuk budaya lokal yang harus tetap dilestarikan di tengah hiruk-pikuk politik. Sementara itu, derap langkah ratusan anggota marching band dari berbagai sekolah menengah atas di Jakarta menambah kemeriahan. Dengan balutan seragam berwarna-warni, mereka memainkan lagu-lagu nasional seperti "Hari Merdeka" dan "Tanah Airku" yang membuat suasana semakin khidmat sekaligus ceria. Anak-anak yang menonton dari pinggir jalan tampak tak henti-hentinya bertepuk tangan melihat kemeriahan ini.
Pesan Persatuan dari Panggung Deklarasi
Setelah pawai berkeliling, para peserta berkumpul di area panggung utama yang didirikan di sisi selatan Monas. Sejumlah tokoh nasional, termasuk Ketua KPU saat itu, komisioner Bawaslu, dan perwakilan partai politik peserta pemilu, naik ke atas panggung secara bergiliran. Dalam orasinya, Ketua KPU menekankan bahwa kampanye harus dijadikan ajang adu gagasan, bukan adu domba. "Jangan jadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk bermusuhan. Mari kita jaga persatuan dan kesatuan bangsa di atas segalanya," ujarnya disambut gemuruh tepuk tangan.
Perwakilan Bawaslu kemudian membacakan butir-butir Deklarasi Kampanye Damai yang isinya antara lain menolak politik uang, ujaran kebencian, dan penyebaran berita bohong. Setiap perwakilan partai kemudian menandatangani pakta integritas di atas panggung, disaksikan langsung oleh ribuan pasang mata. Momen ini menjadi penegas bahwa meskipun bersaing dalam kontestasi politik, seluruh pihak harus tetap berpegang pada prinsip fair play dan menghormati aturan main demokrasi.
Yang unik dari acara ini adalah pelibatan aktif komunitas lokal. Selain ondel-ondel, sejumlah sanggar tari tradisional juga menampilkan tarian khas dari berbagai daerah—mulai dari Tari Saman, Tari Piring, hingga Tari Merak. Penampilan ini ingin menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan budaya, dan perbedaan itu justru menjadi kekuatan, bukan kelemahan, dalam membangun demokrasi yang sehat. Peserta pawai juga membentangkan spanduk bertuliskan "Pemilu Damai, Indonesia Maju" dan "Suara Kita Masa Depan Kita" yang digambar tangan oleh para pelajar.
Antusiasme Warga dan Harapan untuk Pemilu 2019
Warga yang memadati trotoar mengaku terhibur sekaligus mendapatkan pencerahan. Salah seorang ibu rumah tangga asal Palmerah, Jakarta Barat, mengatakan bahwa acara seperti ini penting untuk meredakan tensi politik yang sering memanas. "Biasanya kalau sudah dekat pemilu, suka ada ketegangan di lingkungan. Dengan ada acara ini, kami jadi sadar bahwa pemilu itu pesta rakyat yang harus dirayakan dengan gembira, bukan ditakuti," katanya sambil menggendong anak balitanya.
Kehadiran marching band dan kostum-kostum unik ternyata juga menarik minat para fotografer amatir maupun profesional. Ratusan bidikan kamera diarahkan ke arah pawai, mengabadikan momen-momen penuh warna tersebut. Beberapa di antaranya langsung mengunggahnya ke media sosial dengan tanda pagar #KampanyeDamai2019, yang sempat menjadi trending topic di Twitter pada siang itu. Panitia mengaku sengaja memilih format pawai budaya seperti ini agar kampanye damai tak hanya sekadar slogan, melainkan juga menjadi pengalaman yang membekas di hati masyarakat.
Deklarasi Kampanye Damai di Monas itu ditutup dengan pelepasan ratusan burung merpati putih oleh petinggi KPU, Bawaslu, dan perwakilan partai. Aksi simbolis itu diiringi alunan lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" yang dinyanyikan bersama-sama. Pesan yang ingin disampaikan jelas: Pemilu 2019 harus menjadi momentum bagi seluruh bangsa Indonesia untuk membuktikan bahwa demokrasi dapat berjalan tanpa kekerasan, tanpa hoaks, dan tanpa perpecahan. Sambil beranjak meninggalkan lokasi, seorang peserta dari komunitas seni jalanan berujar singkat, "Yang penting pesannya sampai ke hati, bukan cuma ke telinga." Mungkin itulah gambaran paling tepat tentang bagaimana sebuah pawai bisa menjadi lebih dari sekadar parade—yakni menjadi cermin kedewasaan bangsa dalam berdemokrasi.
Comments (0)