Pawai Deklarasi Damai Pemilu 2019 Meriahkan Monas

Jakarta - Suasana pagi di kawasan Monumen Nasional (Monas) berubah menjadi lautan warna dan kegembiraan pada Minggu (23/9). Ratusan peserta pawai turun ke jalan membawa semangat persatuan dalam gelara...

Pawai Deklarasi Damai Pemilu 2019 Meriahkan Monas

Jakarta - Suasana pagi di kawasan Monumen Nasional (Monas) berubah menjadi lautan warna dan kegembiraan pada Minggu (23/9). Ratusan peserta pawai turun ke jalan membawa semangat persatuan dalam gelaran Deklarasi Kampanye Damai menjelang Pemilu 2019. Tak hanya para pendeklarasi yang berbaris rapi, kehadiran badut berbentuk kotak suara raksasa dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), pasangan ondel-ondel khas Betawi, serta lantunan energik marching band sukses menyedot perhatian masyarakat yang memadati kawasan silang Monas. Langit cerah seolah ikut merestui pesan damai yang diserukan bersama-sama.

Deklarasi yang Dihadiri Seluruh Elemen Bangsa

Acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen kolektif untuk menjaga keamanan dan ketertiban selama masa kampanye. Terlihat jajaran penyelenggara pemilu dari KPU dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) berbaur dengan perwakilan partai politik, aparat keamanan, tokoh masyarakat, hingga pelajar. Ketua KPU RI waktu itu, Arief Budiman, dalam sambutannya menegaskan bahwa deklarasi ini adalah wujud tanggung jawab moral semua pihak. "Kami mengajak setiap peserta pemilu untuk menjadi agen perdamaian. Tidak ada kemenangan sesaat yang sebanding dengan retaknya persatuan bangsa," ucapnya di hadapan peserta. Sementara itu, Kapolda Metro Jaya menekankan kesiapan personel untuk mengawal setiap tahapan pemilu tanpa kompromi terhadap pelanggaran.

Pawai dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dengan rute melingkari Monas. Masing-masing kontingen menampilkan yel-yel kreatif bertema antidiskriminasi, antihasutan, dan penolakan politik uang. Spanduk-spanduk bertuliskan “Pemilu Damai Harga Mati” serta “Beda Pilihan, Tetap Saudara” ikut menyemarakkan laju barisan. Peserta dari kalangan pemuda bahkan membawa ornamen bendera merah putih raksasa yang membentang puluhan meter sebagai simbol cinta tanah air di tengah perbedaan politik.

Simbol Pemilu Berpadu Budaya Betawi

Yang paling mencuri perhatian adalah atraksi badut kotak suara. Dengan tinggi hampir dua meter dan dicat identik dengan warna khas tempat pemungutan suara, badut ini melambangkan pesan bahwa suara rakyat harus dijaga bersama. Anak-anak yang hadir tampak antusias menyapa dan berswafoto dengan maskot unik tersebut. Tidak jauh dari situ, sepasang ondel-ondel berwarna mencolok bergerak lincah diiringi musik tanjidor. Kehadiran kesenian Betawi ini bukan sekadar hiburan, melainkan penegasan bahwa pesta demokrasi harus tetap berakar pada kearifan lokal dan budaya santun bangsa Indonesia.

Momen semakin hidup ketika kelompok marching band dari sebuah sekolah menengah atas memainkan lagu-lagu nasional seperti "Hari Merdeka" dan "Tanah Airku". Ketukan drum yang presisi dan gesekan trompet yang ceria membuat penonton ikut bernyanyi. Seorang warga yang datang bersama keluarganya, Ratna (42), mengatakan bahwa acara semacam ini memberi harapan baru. "Saya lihat sendiri, ternyata banyak yang mau pemilu damai. Anak saya jadi belajar bahwa beda pilihan itu biasa, yang penting tetap rukun," tuturnya.

Menjaga Kedaulatan Suara di Tahun Politik Krusial

Pemilu 2019 memang menjadi tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya Indonesia menggelar pemilihan legislatif dan presiden secara serentak. Potensi gesekan di tingkat akar rumput pun meningkat tajam, sehingga deklarasi damai seperti yang digelar di Monas ini memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada sekadar aksi jalanan. Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Dr. Maya Kusumawati, menilai bahwa visualisasi komitmen perdamaian melalui karnaval budaya adalah strategi komunikasi publik yang efektif. "Masyarakat lebih mudah mengingat pesan toleransi ketika disampaikan lewat simbol-simbol yang menyenangkan," jelasnya.

Lebih dari itu, keterlibatan elemen Pemprov DKI Jakarta dan komunitas seni menunjukkan bahwa menjaga iklim pemilu yang sejuk adalah pekerjaan semua lapisan, bukan sekadar tugas penyelenggara dan aparat. Pawai ditutup dengan pembacaan ikrar damai yang diikuti seluruh peserta secara serempak. Ikrar tersebut memuat lima poin utama: menolak kampanye hitam, menjaga netralitas ASN, melindungi hak pilih perempuan dan difabel, menghormati hasil pemilu, serta mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perselisihan. Suasana menjadi hening sejenak ketika ribuan tangan terangkat mengikuti kata demi kata ikrar, diakhiri dengan tepuk tangan gemuruh yang menandakan tekad bersama.

Saat mentari semakin meninggi, para peserta perlahan membubarkan diri dengan membawa harapan baru. Badut kotak suara, ondel-ondel, dan dentuman drum dari marching band mungkin sudah tak lagi terdengar, tetapi gaungnya menjadi warisan semangat bahwa Pemilu 2019 harus menjadi peristiwa yang membanggakan, bukan sebaliknya. Deklarasi ini membuktikan bahwa di tengah kontestasi politik yang keras, kegembiraan dan persaudaraan tetap bisa menjadi panggung utama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User