Umat Islam yang hendak menjalankan ibadah puasa sunah sepanjang Oktober 2026 perlu menyiapkan kalender yang cermat. Dua amalan yang paling rutin dikerjakan adalah puasa Senin-Kamis serta puasa Ayyamul Bidh, yakni puasa tiga hari pada pertengahan bulan Hijriah. Keduanya memiliki landasan dalil yang kuat dan waktu pelaksanaan yang berpola tetap, sehingga dapat dipetakan jauh sebelumnya oleh siapa pun yang ingin merutinkan ibadah ini.
Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa penanggalan Oktober 2026 berada pada irisan dua bulan Hijriah. Berdasarkan perhitungan kalender Hijriah global, awal Oktober 2026 jatuh pada pertengahan Rabiul Akhir dan berlanjut memasuki Jumadil Awal pada paruh kedua bulan tersebut. Konsekuensinya, jadwal Ayyamul Bidh tidak berada di satu titik saja, melainkan dapat muncul dua kali dalam rentang satu bulan Masehi, bergantung pada hasil penetapan awal bulan oleh otoritas masing-masing negara. Karena itu, penanggalan resmi pemerintah melalui sidang isbat tetap menjadi acuan utama bagi umat Islam di Indonesia.
Puasa Senin-Kamis: Pola Tetap Sepanjang Bulan
Puasa Senin dan Kamis merupakan amalan yang paling mudah dipetakan karena mengikuti siklus mingguan. Sepanjang Oktober 2026, jadwal puasa Senin-Kamis bergantung pada tanggal berapa bulan tersebut dimulai. Apabila Oktober 2026 dibuka pada hari Kamis, maka puasa sunah pada pekan pertama langsung dapat dilaksanakan pada tanggal 1, lalu berlanjut pada Senin tanggal 5 dan Kamis tanggal 8, dan seterusnya mengikuti pola yang sama hingga akhir bulan.
Keutamaan puasa pada dua hari tersebut bersandar pada sebuah riwayat populer yang menyebutkan bahwa pada hari Senin dan Kamis, catatan amal manusia dilaporkan. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW menyukai kondisi amalnya diangkat dalam keadaan sedang berpuasa. Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar umat Muslim menjaga rutinitas ini sebagai bagian dari ibadah yang konsisten dan bukan amalan musiman.
Dari sisi praktik, puasa Senin-Kamis tidak memerlukan persiapan khusus. Seseorang cukup berniat pada malam hari atau sebelum terbit fajar, lalu menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa hingga waktu magrib. Bacaan niat yang lazim dilafalkan pada malam hari berbunyi keinginan menjalankan puasa sunah Senin atau Kamis karena Allah, sementara doa berbuka dibaca saat azan magrib berkumandang.
Ayyamul Bidh: Tiga Hari di Pertengahan Bulan Hijriah
Berbeda dari puasa Senin-Kamis, Ayyamul Bidh bersifat bulanan dan hanya dilaksanakan tiga hari dalam setiap bulan Hijriah, yaitu tanggal 13, 14, dan 15. Penetapan tanggal ini mengacu pada kalender Hijriah, bukan kalender Masehi, sehingga jadwalnya bergeser sekitar sebelas hari lebih cepat setiap tahun dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada bulan Oktober 2026, pelaksanaan Ayyamul Bidh sangat bergantung pada kapan tanggal 13 Hijriah jatuh. Jika awal Rabiul Akhir berada di akhir September, maka Ayyamul Bidh pertama bisa jatuh pada awal Oktober. Adapun Ayyamul Bidh untuk bulan Jumadil Awal berpotensi jatuh pada akhir Oktober atau bergeser ke awal November, tergantung jumlah hari pada bulan Hijriah sebelumnya, yaitu 29 atau 30 hari.
Klaim: Puasa Ayyamul Bidh selalu jatuh pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Masehi.
Faktanya: Penetapan tanggal tersebut mengikuti kalender Hijriah, sehingga posisinya dalam kalender Masehi selalu berubah setiap bulan dan setiap tahun.
Keutamaan Ayyamul Bidh disebutkan dalam sejumlah riwayat yang menganjurkan puasa tiga hari setiap bulan. Sebagian ulama menjelaskan bahwa hari-hari tersebut dinamakan Ayyamul Bidh, atau hari-hari putih, karena malamnya diterangi cahaya bulan purnama yang membuat suasana malam tampak lebih terang.
Niat dan Tata Cara Pelaksanaan
Pelaksanaan kedua jenis puasa sunah ini memiliki kesamaan tata cara. Niat dilakukan pada malam hari atau sebelum fajar, dengan menyebut jenis puasa yang dijalankan. Untuk Ayyamul Bidh, niat dilafalkan untuk puasa tiga hari berturut-turut pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah. Sementara untuk puasa Senin-Kamis, niat disesuaikan dengan hari pelaksanaannya.
Ada perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai bolehnya berniat puasa sunah setelah terbit fajar selama belum makan dan minum. Sebagian mazhab membolehkan niat di siang hari untuk puasa sunah, namun mayoritas ulama menganjurkan niat dilakukan pada malam hari agar lebih utama dan terhindar dari perbedaan pendapat.
Doa berbuka puasa yang dibaca ketika magrib tiba sama untuk semua jenis puasa, baik wajib maupun sunah. Selain itu, dianjurkan memperbanyak amalan lain seperti membaca Alquran, sedekah, dan salat sunah, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Catatan Penting bagi Yang Hendak Berpuasa
Karena Oktober 2026 mencakup dua bulan Hijriah, umat Islam berpeluang menjalankan dua kali Ayyamul Bidh dalam satu bulan Masehi jika tanggal 13 Rabiul Akhir dan tanggal 13 Jumadil Awal keduanya jatuh dalam rentang yang sama. Peluang ini perlu dihitung dengan cermat agar tidak ada hari puasa yang terlewat.
Hal terpenting adalah memastikan penanggalan awal bulan Hijriah sesuai dengan keputusan resmi yang berlaku, baik melalui sidang isbat pemerintah maupun organisasi keagamaan yang diikuti. Perbedaan penetapan awal bulan kerap terjadi di Indonesia, sehingga umat dianjurkan mengikuti lembaga yang menjadi rujukannya agar jadwal puasa tidak mengalami kekeliruan.
Dengan pemetaan yang baik, ibadah puasa sunah sepanjang Oktober 2026 dapat dijalankan secara teratur dan sesuai tuntunan. Jadwal Senin-Kamis dapat disusun mengikuti kalender Masehi, sedangkan Ayyamul Bidh perlu mengacu pada penanggalan Hijriah yang berlaku resmi.
Comments (0)