Nanik S Deyang Mundur dari Kursi Kepala BGN, Posisi Lowong Sementara

Langkah mengejutkan datang dari pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Nanik S Deyang, yang belum genap setahun mengemban amanah sebagai Kepala BGN, secara resmi mengajukan pengunduran diri. Keputu...

Nanik S Deyang Mundur dari Kursi Kepala BGN, Posisi Lowong Sementara

Langkah mengejutkan datang dari pucuk pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN). Nanik S Deyang, yang belum genap setahun mengemban amanah sebagai Kepala BGN, secara resmi mengajukan pengunduran diri. Keputusan ini sontak meninggalkan kekosongan di kursi tertinggi lembaga yang memiliki peran krusial dalam penanganan masalah gizi dan stunting di Indonesia tersebut. Masa transisi terpaksa dijalani tanpa nahkoda definitif hingga pemerintah menunjuk pengganti.

Jejak Profesional Sebelum Menakhodai BGN

Sebelum dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang bukanlah sosok asing di lingkup kebijakan pangan dan kesehatan publik. Perempuan kelahiran Yogyakarta, 1968, ini menamatkan pendidikan sarjana di bidang Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, lalu meraih gelar magister Kesehatan Masyarakat dari Universitas Indonesia. Kariernya banyak dihabiskan di Kementerian Kesehatan, dengan spesialisasi pada program perbaikan gizi masyarakat. Ia tercatat sebagai salah satu arsitek di balik perluasan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil dan balita di daerah tertinggal pada periode 2015–2019.

Setelah pensiun dini dari birokrasi, Nanik sempat menjadi konsultan lepas untuk beberapa organisasi internasional seperti UNICEF dan World Food Programme (WFP) dalam proyek fortifikasi pangan. Pada akhir 2024, namanya muncul ke permukaan ketika Presiden menunjuknya sebagai Kepala BGN yang pertama, sebuah lembaga baru hasil restrukturisasi dari badan sebelumnya. Penunjukan ini sempat diapresiasi banyak pihak mengingat rekam jejaknya yang panjang dan bebas dari kontroversi.

Resignasi Mendadak: Spekulasi dan Pernyataan Resmi

Pengunduran diri Nanik disampaikan melalui surat resmi yang diterima Sekretariat Negara pada Senin pekan lalu. Dalam keterangan tertulis singkat, ia menyebut alasan "kepentingan keluarga" sebagai dasar keputusannya. Namun, beredar spekulasi bahwa mundurnya Nanik tidak lepas dari friksi internal terkait arah kebijakan anggaran BGN. Dua sumber di lingkungan lembaga, yang enggan disebutkan namanya, menyebutkan adanya perbedaan pandangan antara Nanik dan sejumlah pemangku kepentingan soal prioritas penggunaan dana: Nanik bersikeras mengalokasikan 60 persen anggaran langsung ke intervensi gizi spesifik di lapangan, sementara pihak lain menghendaki porsi lebih besar untuk riset dan pengembangan kapasitas institusi.

"Bu Nanik adalah teknokrat murni. Beliau ingin hasil nyata secepatnya, tapi dinamika di dalam tidak memungkinkan," ujar seorang pejabat BGN yang meminta identitasnya dirahasiakan. Pihak Istana sendiri belum memberikan pernyataan detail selain mengonfirmasi kekosongan jabatan dan menyatakan akan segera melakukan evaluasi untuk mencari pengganti.

Dampak Kosongnya Pimpinan BGN

Ketiadaan kepala definitif di Badan Gizi Nasional dikhawatirkan memperlambat sejumlah program prioritas. BGN saat ini tengah menggodok Rencana Induk Percepatan Penurunan Stunting 2025–2029 yang harus diselaraskan dengan pemerintah daerah. Selain itu, ada agenda mendesak berupa distribusi dana alokasi khusus (DAK) gizi tahap pertama yang membutuhkan persetujuan pimpinan tertinggi. Pelaksana tugas yang ditunjuk sementara—saat ini diisi oleh Sekretaris Utama BGN—hanya memiliki kewenangan terbatas, terutama dalam pengambilan keputusan strategis yang bersifat lintas kementerian.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Haryo Kusumawijaya, menilai mundurnya Nanik sebagai kehilangan yang cukup signifikan. "Beliau memiliki pengalaman lapangan yang jarang dimiliki pejabat struktural. BGN butuh pemimpin yang paham betul ekosistem gizi, bukan sekadar administrator," ujarnya. Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru menunjuk pengganti tanpa melalui proses uji kepatutan publik.

Apa Selanjutnya untuk BGN?

Saat ini, mekanisme pemilihan kepala BGN sepenuhnya berada di tangan Presiden dengan mempertimbangkan masukan dari Menteri Kesehatan dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional. Belum ada batas waktu resmi pengisian jabatan, namun kekosongan yang berlarut dapat berdampak pada serapan anggaran yang menjadi tolok ukur kinerja lembaga baru.

Beberapa nama sudah mulai disebut-sebut sebagai kandidat potensial, di antaranya Deputi I BGN yang saat ini menjalankan fungsi teknis, serta mantan Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes yang kini menjadi staf khusus Wapres. Publik berharap pengganti Nanik adalah figur yang mampu meneruskan semangat transformasi tanpa terjebak dalam silo birokrasi yang justru menghambat. Nanik S Deyang sendiri, pascamundur, dikabarkan akan kembali ke dunia akademik dan bergabung dengan salah satu universitas swasta di Jakarta sebagai dosen tamu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User