Kepergian Nanik dari kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) masih menyisakan tanda tanya besar. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan jabatannya, ia menyampaikan sejumlah pesan yang kini menjadi perbincangan hangat. Dalam pernyataan terbatas yang disampaikan menjelang pengunduran dirinya, Nanik mengungkapkan bahwa ia telah menyelesaikan tugas penting dalam membenahi fondasi kelembagaan, sekaligus memberikan isyarat kuat mengenai sosok yang akan menggantikannya.
Klaim Fondasi Perbaikan
Menjelang akhir masa jabatannya, Nanik menegaskan bahwa ia tidak meninggalkan BGN dalam keadaan kacau. Ia mengklaim telah meletakkan dasar-dasar perbaikan yang kokoh agar lembaga itu dapat berjalan lebih efektif di masa mendatang. ‘Saya sudah menyusun ulang sistem kerja internal, memperbaiki mekanisme pengawasan distribusi bantuan gizi, dan memperkuat koordinasi dengan dinas kesehatan daerah. Itu adalah fondasi yang saya tinggalkan,’ ujarnya, tanpa merinci data atau dokumen pendukung yang bisa diverifikasi publik.
Menurut Nanik, sejumlah program prioritas seperti integrasi data penerima bantuan dan pelatihan kader gizi telah memasuki tahap finalisasi sebelum ia mundur. Ia optimistis siapa pun penggantinya nanti akan mendapati BGN yang jauh lebih siap. Kendati demikian, beberapa pengamat kebijakan publik meminta transparansi lebih besar, mengingat kinerja BGN sebelumnya kerap dikritik karena lamban dalam menangani kasus stunting dan penyaluran bantuan yang tidak tepat sasaran.
Bocoran Pengganti: 'Adik Saya'
Saat disinggung mengenai figur yang akan menggantikannya, Nanik memberikan jawaban yang samar dan memicu spekulasi luas. Ia menyebut bahwa penggantinya adalah ‘adik saya’. Kalimat pendek itu langsung memicu beragam tafsir. Sebagian pihak menduga Nanik benar-benar merujuk pada adik kandungnya sendiri, yang kemungkinan memiliki latar belakang di bidang kesehatan atau gizi. Dugaan ini diperkuat karena dalam beberapa kesempatan, Nanik pernah memperkenalkan seorang perempuan muda yang ia sebut ‘adik’ kepada koleganya.
Namun, tak sedikit yang menafsirkan istilah ‘adik saya’ sebagai kiasan untuk seseorang yang berasal dari satu almamater, organisasi, atau afiliasi politik yang sama. Dalam budaya politik dan birokrasi Indonesia, kata ‘adik’ kerap digunakan untuk menyebut junior atau orang yang dianggap dekat secara ideologis. Sampai berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari Nanik maupun BGN mengenai identitas pengganti tersebut. Kementerian Kesehatan selaku koordinator teknis BGN juga belum memberikan pernyataan apa pun.
Respons dan Langkah Selanjutnya
Klaim Nanik langsung menuai tanggapan. Pengamat kebijakan publik, Dr. Ahmad Rizal, menilai bahwa pernyataan Nanik tentang fondasi perbaikan perlu dibuktikan dengan evaluasi independen. ‘Pernyataan sepihak seperti itu bisa jadi sekadar pencitraan. Publik berhak mendapatkan laporan kinerja yang obyektif sebelum pengganti ditunjuk,’ ujarnya. Sementara itu, dari internal BGN, beberapa pejabat mengaku belum mengetahui rencana suksesi dan kaget dengan isyarat ‘adik saya’ yang dilontarkan Nanik.
Proses pemilihan Kepala BGN yang baru diperkirakan akan memakan waktu cukup panjang mengingat posisi tersebut membutuhkan sosok dengan kompetensi lintas sektor. Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menyatakan akan segera membentuk panitia seleksi. Silang pendapat tentang masa depan BGN diperkirakan terus bergulir, terutama setelah pernyataan kontroversial dari Nanik. Apakah klaim fondasi perbaikan itu benar adanya, dan siapa sebenarnya ‘adik saya’ yang dimaksud? Publik kini menanti jawaban dalam proses suksesi yang tengah berjalan.
Comments (0)