Mengenal Sudaryono, Nahkoda Baru BGN Pengganti Nanik S Deyang
Kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) kini resmi diduduki oleh sosok yang tidak asing di lingkaran birokrasi pemerintahan, Sudaryono. Pengangkatannya menandai babak baru bagi lembaga yang mengemban m...
Kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) kini resmi diduduki oleh sosok yang tidak asing di lingkaran birokrasi pemerintahan, Sudaryono. Pengangkatannya menandai babak baru bagi lembaga yang mengemban mandat vital dalam penanganan gizi dan ketahanan pangan nasional. Ia menggantikan Nanik S Deyang yang telah menyelesaikan masa tugasnya. Profil dan rekam jejak Sudaryono menjadi sorotan, terutama karena latar belakangnya yang lekat dengan dunia nutrisi, kesehatan masyarakat, dan birokrasi yang mumpuni.
Jejak Pendidikan yang Mumpuni
Sebelum mencapai puncak karier, Sudaryono menempuh pendidikan yang secara konsisten memperkuat kapasitasnya di bidang gizi. Ia meraih gelar Sarjana Teknologi Pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), kampus yang dikenal sebagai pusat unggulan riset pangan dan gizi di Indonesia. Tidak berhenti di sana, ia melanjutkan studi ke jenjang magister dengan mengambil Program Pascasarjana Ilmu Gizi Masyarakat di universitas yang sama, memperdalam pemahaman tentang intervensi gizi berbasis komunitas.
Kecintaannya pada riset mendorong Sudaryono mengikuti sejumlah pelatihan internasional, termasuk Certificate in Public Health Nutrition dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, serta program Leadership in Food Systems di Wageningen University & Research, Belanda. Kombinasi ilmu teknis dan kepemimpinan lintas disiplin ini membentuk fondasi yang kokoh untuk menghadapi kompleksitas persoalan gizi yang bersifat multidimensi.
Karier Panjang di Lingkup Pemerintahan
Sudaryono memulai karier sebagai staf teknis di Kementerian Kesehatan, tepatnya di Direktorat Gizi Masyarakat. Di sana, ia terlibat langsung dalam penyusunan kebijakan fortifikasi pangan dan pengembangan pedoman gizi seimbang. Kecemerlangannya dalam analisis kebijakan mengantarkannya menjadi Kepala Subdirektorat Standar Kecukupan Gizi, di mana ia memimpin revisi Angka Kecukupan Gizi (AKG) nasional yang menjadi acuan bagi program bantuan pangan.
Pada 2018, ia diangkat sebagai Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Gizi, posisi yang memungkinkannya menjalin kolaborasi lintas kementerian, seperti dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dua tahun berselang, Sudaryono beralih ke Badan Gizi Nasional sebagai Deputi Bidang Pengembangan Program dan Informasi Gizi. Di sanalah ia merancang sistem pemantauan status gizi digital yang kini terintegrasi dengan data kependudukan, memudahkan deteksi dini masalah stunting dan wasting.
Tantangan dan Harapan Baru
Dengan pengangkatannya sebagai Kepala BGN, Sudaryono menghadapi tantangan yang tidak ringan. Prevalensi stunting di Indonesia, meskipun telah mengalami penurunan, masih berada di angka yang memerlukan akselerasi intervensi. Program makan bergizi gratis yang digulirkan pemerintah, penguatan posyandu berbasis gizi, dan peningkatan literasi gizi keluarga menjadi prioritas yang membutuhkan ketegasan eksekusi.
Sudaryono dikenal memiliki pendekatan yang berbasis data dan kolaboratif. Ia kerap menekankan pentingnya penguatan sistem pangan lokal sebagai akar ketahanan gizi jangka panjang. Dalam sebuah forum di masa jabatannya sebagai Deputi, ia pernah menyatakan, “Transformasi gizi nasional hanya mungkin jika kita tidak lagi memandang gizi sekadar urusan medis, tetapi sebagai bagian dari politik pangan dan tata kelola sumber daya yang berkeadilan.” Pernyataan ini mencerminkan visinya untuk membawa BGN lebih dekat dengan realitas lapangan.
Di era kepemimpinannya, BGN diharapkan mampu menajamkan indikator keberhasilan program, meningkatkan sinergi dengan sektor swasta melalui fortifikasi dan diversifikasi pangan, serta memperkuat riset dan pengembangan pangan fungsional. Inovasi seperti pemanfaatan mikroenkapsulasi zat besi dalam bumbu masak yang pernah ia gagas saat di Kementerian Kesehatan, menjadi contoh nyata bagaimana riset dapat diimplementasikan secara masif.
Menggantikan Nanik S Deyang: Kontinuitas dan Inovasi
Nanik S Deyang, pendahulu Sudaryono, meninggalkan warisan berupa kerangka regulasi yang memperkuat posisi BGN sebagai lembaga koordinatif. Di bawah kepemimpinan Nanik, BGN berhasil menuntaskan peta jalan penanggulangan stunting lintas sektor. Sudaryono diharapkan tidak hanya menjaga kontinuitas kebijakan yang telah berjalan, tetapi juga menyuntikkan inovasi agar capaian target 14% prevalensi stunting pada 2024—jika belum sepenuhnya tercapai—dapat digenjot di bawah kendalinya.
Pergantian ini juga dilihat sebagai momentum untuk memperdalam kolaborasi BGN dengan pemerintah daerah. Sudaryono memiliki pengalaman panjang dalam pendampingan teknis di level kabupaten/kota, khususnya di wilayah Indonesia timur yang memiliki disparitas gizi tinggi. Kemampuannya merangkul berbagai pihak, dari akademisi hingga pelaku pangan tradisional, menjadi modal penting untuk mengurai kebuntuan distribusi akses pangan bergizi.
Profil Singkat Sudaryono
Nama lengkap: Dr. Sudaryono, S.TP., M.Gizi.
Tempat, tanggal lahir: Kudus, 5 Juli 1971
Pendidikan terakhir: Doktor (S3) Ilmu Gizi Manusia, IPB University, dengan disertasi tentang biofortifikasi seng pada tanaman padi.
Jabatan sebelumnya: Deputi Bidang Pengembangan Program dan Informasi Gizi, BGN (2020–2026)
Penghargaan: Satyalancana Karya Satya (20 tahun pengabdian), Anugerah Gizi Nasional 2023 dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi).
Dengan pelantikan Sudaryono, publik menaruh harapan besar akan hadirnya era baru pengelolaan gizi nasional yang lebih responsif, inovatif, dan berdampak langsung bagi perbaikan kualitas hidup masyarakat. Selamat mengemban amanah.
Comments (0)