Mengenal Irsyad Al Ghifari, Praktisi Komunikasi Kebijakan dan Keuangan
JAKARTA — Nama Irsyad Al Ghifari mencuat dalam percakapan publik sebagai sosok yang menggeluti dunia komunikasi kebijakan. Dengan kualifikasi akademik S.E. dan M.I.Kom, ia berkiprah sebagai praktisi...
JAKARTA — Nama Irsyad Al Ghifari mencuat dalam percakapan publik sebagai sosok yang menggeluti dunia komunikasi kebijakan. Dengan kualifikasi akademik S.E. dan M.I.Kom, ia berkiprah sebagai praktisi komunikasi kebijakan publik dan keuangan. Perpaduan keahlian semacam ini kian dibutuhkan seiring meningkatnya kompleksitas isu fiskal, regulasi, dan tata kelola yang harus dipahami oleh warga negara.
Dua Disiplin Ilmu dalam Satu Profesi
Dua gelar yang melekat pada namanya mencerminkan perpaduan disiplin yang jarang dimiliki sekaligus. S.E., atau Sarjana Ekonomi, menandakan fondasi pemahaman atas mekanisme pasar, kebijakan fiskal, hingga pengelolaan anggaran negara. Sementara itu, M.I.Kom, atau Magister Ilmu Komunikasi, memperdalam kemampuan menyusun pesan, mengelola narasi, dan membangun pemahaman publik secara efektif.
Kombinasi keduanya melahirkan profil profesional yang sanggup membaca substansi kebijakan sekaligus merancang strategi penyampaiannya. Di banyak negara, figur dengan dua kompetensi seperti ini menjadi rebutan, baik di lembaga pemerintah, sektor perbankan, maupun industri jasa keuangan. Indonesia pun mulai menunjukkan kebutuhan serupa, khususnya ketika kebijakan ekonomi kerap memicu perdebatan yang tajam di ruang publik.
Menerjemahkan Bahasa Birokrasi untuk Rakyat
Dalam praktiknya, komunikasi kebijakan publik adalah pekerjaan menerjemahkan. Dokumen kebijakan sering ditulis dalam bahasa birokrasi yang padat istilah teknis, mulai dari notasi anggaran hingga mekanisme transfer fiskal. Tugas seorang praktisi adalah mengubah materi itu menjadi informasi yang mudah dicerna tanpa mengurangi akurasi dan konteksnya.
Kesalahan dalam tahap penerjemahan ini berisiko melahirkan kesalahpahaman yang lebih luas. Masyarakat yang tidak memahami sebuah kebijakan cenderung menolaknya, bukan karena substansinya buruk, melainkan karena cara penyampaiannya gagal. Di sinilah letak nilai penting seorang komunikator kebijakan: ia menjaga agar keputusan publik tidak tenggelam dalam kekeliruan persepsi.
Komunikasi Keuangan: Menjaga Kepercayaan Publik
Pada ranah keuangan, komunikasi memegang peran yang lebih krusial. Isu seperti anggaran pendapatan dan belanja negara, subsidi energi, perpajakan, hingga posisi utang pemerintah kerap menjadi bahan perbincangan yang panas. Tanpa komunikasi yang jernih, angka-angka besar dalam dokumen anggaran hanya akan menjadi benda asing yang mudah disalahartikan.
Praktisi komunikasi keuangan dituntut menjelaskan hal rumit dengan sederhana, tetapi tetap bertanggung jawab. Ia juga harus peka terhadap kekhawatiran publik, misalnya soal daya beli, inflasi, atau dampak kebijakan terhadap rumah tangga. Kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan keuangan negara, pada akhirnya, ikut ditentukan oleh kualitas komunikasi yang menyertainya.
Relevansi di Tengah Banjir Informasi
Era digital membawa tantangan tersendiri bagi dunia komunikasi kebijakan. Hoaks dan disinformasi seputar isu ekonomi menyebar jauh lebih cepat dibandingkan klarifikasi resmi. Kehadiran praktisi dengan latar belakang akademik yang jelas menjadi salah satu penyeimbang: ia dapat menjelaskan kebijakan berdasarkan data, bukan berdasarkan narasi yang memecah belah.
Kredibilitas menjadi modal utama dalam situasi semacam ini. Publik tidak lagi sekadar menuntut informasi, melainkan menuntut informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Seorang praktisi komunikasi kebijakan publik dan keuangan seperti Irsyad Al Ghifari berada tepat di titik pertemuan antara tuntutan keahlian dan tuntutan kepercayaan tersebut.
Menanti Kontribusi di Ruang Publik
Kehadiran figur semacam ini menjadi pengingat bahwa kebijakan yang baik belum berarti apa-apa jika tidak dipahami oleh rakyatnya. Dengan latar belakang ekonomi dan komunikasi, ia berdiri di persimpangan dua dunia yang sama-sama menentukan arah pembangunan: substansi dan persepsi.
Publik kini menantikan kontribusi nyata dari para profesional di bidang ini. Baik melalui forum diskusi, literasi media, maupun keterlibatan langsung dalam perumusan kebijakan, ruang untuk berkiprah masih terbuka lebar. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dalam menyampaikan kebenaran secara jernih, tanpa tendensi, dan dengan bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas informasi yang beredar di dalamnya. Sosok seperti Irsyad Al Ghifari, dengan kualifikasi ganda di bidang ekonomi dan komunikasi, mewakili harapan bahwa percakapan publik tentang uang negara dapat berjalan lebih dewasa, lebih jernih, dan lebih berlandaskan fakta.
Comments (0)