Membedah Anggapan Diabetes Kering dan Basah dalam Kacamata Medis

[KLAIM] Klaim yang tersebar luas di masyarakat menyatakan bahwa penyakit diabetes melitus terbagi menjadi dua jenis yang berbeda, yakni "diabetes kering" dan "diabetes basah". Anggapan ini melekat kua...

Membedah Anggapan Diabetes Kering dan Basah dalam Kacamata Medis

[KLAIM] Klaim yang tersebar luas di masyarakat menyatakan bahwa penyakit diabetes melitus terbagi menjadi dua jenis yang berbeda, yakni "diabetes kering" dan "diabetes basah". Anggapan ini melekat kuat pada pemahaman awam: "diabetes basah" digambarkan sebagai kondisi dengan luka yang terus mengeluarkan cairan dan tidak kunjung mengering, sedangkan "diabetes kering" dikaitkan dengan luka yang cepat mengering, menghitam, dan dianggap lebih mudah ditangani.

[SUMBER KLAIM] Klaim tersebut umumnya muncul dari percakapan sehari-hari, nasihat pengobatan tradisional, serta unggahan media sosial yang membedakan dua tipe diabetes berdasarkan penampakan luka semata. Tidak ditemukan dokumen medis formal yang menjadi dasar pembedaan tersebut.

Verifikasi terhadap Literatur Medis

[VERIFIKASI] Berdasarkan verifikasi terhadap literatur medis, tidak ditemukan satu pun klasifikasi resmi yang membagi diabetes melitus ke dalam kategori "kering" dan "basah". Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) dalam lembar fakta resminya tentang diabetes mengelompokkan penyakit ini menjadi diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, diabetes gestasional, dan jenis spesifik lain yang berkaitan dengan kondisi tertentu. Sumber resmi WHO tersebut tidak memuat istilah "diabetes kering" maupun "diabetes basah".

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) juga tidak menggunakan dikotomi "kering" dan "basah" sebagai klasifikasi penyakit. Materi edukasi resmi P2PTM menegaskan bahwa pembedaan semacam itu adalah istilah awam yang tidak memiliki dasar patofisiologis. Demikian pula Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) dalam konsensus pengelolaan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia hanya mengenal pembagian berdasarkan mekanisme penyakit, bukan berdasarkan kondisi luka.

Kriteria diagnosis diabetes melitus yang diakui secara internasional mengacu pada pemeriksaan laboratorium, yakni kadar glukosa darah puasa, kadar glukosa dua jam setelah tes toleransi glukosa oral, serta hemoglobin terglikasi (HbA1c). Tidak satu pun dari ketiga parameter ini membedakan pasien ke dalam kelompok "kering" atau "basah", karena keduanya tidak tercantum dalam standar diagnostik mana pun.

Fakta: Klasifikasi Medis Diabetes

[FAKTA] Faktanya adalah, istilah "kering" dan "basah" yang kerap dilekatkan pada diabetes sebenarnya merujuk pada kondisi komplikasi luka, bukan pada jenis diabetes itu sendiri. Dalam terminologi kedokteran, luka diabetik yang berair dan tidak kunjung sembuh dikenal sebagai ulkus diabetikum, sementara jaringan yang menghitam akibat kematian sel disebut gangren. Gangren basah ditandai oleh infeksi dan akumulasi cairan, sedangkan gangren kering ditandai oleh jaringan yang mengering dan menghitam tanpa infeksi aktif yang dominan.

Data menunjukkan bahwa kedua bentuk luka tersebut dapat muncul pada pasien diabetes melitus tipe apa pun. Kemunculannya bergantung pada tingkat kerusakan pembuluh darah, derajat neuropati, serta ada tidaknya infeksi bakteri, bukan pada jenis diabetes yang diderita. Dengan demikian, kondisi "basah" atau "kering" pada luka tidak menandakan tipe diabetes yang berbeda, melainkan perbedaan kondisi klinis luka pada pasien yang sama-sama menderita diabetes melitus.

Menurut American Diabetes Association (ADA) dalam Standards of Care, diabetes melitus tipe 2 sebagai bentuk paling umum ditandai oleh resistensi insulin dan defisiensi relatif insulin, sedangkan diabetes tipe 1 ditandai oleh kerusakan autoimun pada sel beta penghasil insulin di pankreas. Tidak ada parameter "kering" atau "basah" yang tercantum dalam kriteria diagnosis resmi mana pun.

Data resmi International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas mencatat sekitar 19,5 juta orang dewasa berusia 20–79 tahun di Indonesia hidup dengan diabetes melitus pada tahun 2021, menempatkan Indonesia pada peringkat kelima dunia dalam jumlah penyandang diabetes. Dengan besarnya populasi terdampak, ketepatan istilah menjadi relevan karena pembedaan "kering" dan "basah" yang tidak akurat berpotensi mengaburkan pemahaman publik terhadap penanganan yang sesuai panduan medis.

Kesimpulan

[KESIMPULAN] Berdasarkan verifikasi, klaim bahwa diabetes melitus terbagi menjadi "diabetes kering" dan "diabetes basah" bertentangan dengan klasifikasi medis resmi. Istilah tersebut menyesatkan karena mengalihkan pemahaman publik dari tipe diabetes yang sebenarnya menuju penampakan luka komplikasi. Bukti dari WHO, Kementerian Kesehatan RI, ADA, IDF, dan PERKENI menunjukkan bahwa pembagian diabetes yang sah didasarkan pada patofisiologi penyakit, bukan pada kondisi luka yang "kering" atau "basah".

Rating: SALAH.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User