Mahasiswa KKN Tewas usai Perahu yang Ditumpangi Terbalik di Sungai Rawas

Sebuah insiden nahas terjadi di perairan Sungai Rawas, Sumatera Selatan, yang merenggut nyawa seorang mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN). Perahu bermotor yang ditumpangi rombongan mahasiswa it...

Mahasiswa KKN Tewas usai Perahu yang Ditumpangi Terbalik di Sungai Rawas

Sebuah insiden nahas terjadi di perairan Sungai Rawas, Sumatera Selatan, yang merenggut nyawa seorang mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN). Perahu bermotor yang ditumpangi rombongan mahasiswa itu oleng, menabrak benda keras di tengah aliran, lalu terbalik. Satu korban dinyatakan meninggal dunia setelah tim pencarian menemukannya dalam kondisi tak bernyawa, sementara sejumlah rekan lainnya selamat meski mengalami syok berat.

Kronologi Kecelakaan di Tengah Misi Pengabdian

Berdasarkan keterangan saksi dan aparat setempat, rombongan mahasiswa tersebut tengah menjalani program KKN di salah satu desa terpencil di sekitar bantaran Sungai Rawas. Sebagai bagian dari mobilitas kegiatan, mereka menggunakan perahu kayu bermesin untuk menyeberangi sungai. Diduga, pengemudi perahu yang juga seorang mahasiswa belum memiliki kecakapan yang memadai dalam mengendalikan kendaraan air tersebut.

Saat melaju di arus sungai yang memiliki banyak gelondongan kayu sisa penebangan, perahu yang melaju dengan kecepatan sedang itu tiba-tiba menghantam sebuah batang kayu besar yang sebagian tersembunyi di bawah permukaan air. Benturan keras membuat perahu kehilangan keseimbangan. Hentakan spontan dari penumpang yang panik justru memperparah kondisi, hingga perahu oleng dan terbalik dalam hitungan detik. Seluruh penumpang terlempar ke sungai dengan kedalaman bervariasi antara tiga hingga lima meter.

Korban yang merupakan salah satu mahasiswa di rombongan itu sempat terlihat berusaha berenang, namun arus sungai yang cukup deras dan kemungkinan kemampuan renang yang terbatas membuatnya terseret sebelum pertolongan datang.

Upaya Pencarian dan Evakuasi yang Dramatis

Warga sekitar yang melihat kejadian segera melapor ke perangkat desa dan aparat kepolisian sektor. Tim gabungan yang terdiri dari anggota Polsek setempat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, dan masyarakat langsung melakukan pencarian. Mereka menggunakan perahu karet dan alat seadanya untuk menyisir aliran sungai. Pencarian sempat terkendala oleh arus yang kuat dan jarak pandang yang terbatas di dalam air, terutama karena material kayu besar yang berserakan di dasar sungai.

Setelah hampir dua jam penyisiran, jasad korban ditemukan tersangkut di antara tumpukan kayu sekitar 500 meter dari lokasi kecelakaan. Proses evakuasi berjalan hati-hati untuk menjaga integritas tubuh korban. Petugas medis dari puskesmas terdekat segera melakukan identifikasi dan menyatakan korban telah meninggal dunia akibat tenggelam.

Sementara itu, delapan mahasiswa lain yang selamat segera dilarikan ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan. Sebagian besar hanya mengalami luka lecet dan trauma psikologis. Pihak kampus berkoordinasi dengan keluarga korban dan aparat desa untuk proses pemulangan jenazah ke kampung halaman.

Pernyataan Resmi dan Temuan Aparat

Kepolisian Resor (Polres) setempat telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memeriksa sejumlah saksi, termasuk mahasiswa selamat dan pemilik perahu. Hasil pemeriksaan awal menyimpulkan bahwa kecelakaan dipicu oleh faktor kelalaian dan minimnya pengetahuan pengemudi dalam membaca medan sungai yang berbahaya.

“Perahu yang digunakan memang laik, namun pengemudi diduga tidak terbiasa menghadapi rintangan kayu di jalur sungai seperti itu. Saat perahu menabrak, reaksi spontan yang salah memperburuk posisi perahu hingga terbalik,” ujar seorang perwira kepolisian yang menangani kasus tersebut. Polisi juga menyita perahu nahas itu sebagai barang bukti dan akan melakukan uji teknis lebih lanjut.

Pihak perguruan tinggi melalui juru bicara menyampaikan duka mendalam. Mereka menegaskan bahwa seluruh peserta KKN telah dibekali pembekalan, termasuk prosedur keselamatan, namun tidak ada sesi khusus tentang pelayaran sungai karena moda transportasi utama di desa itu adalah darat. Perjalanan via sungai dilakukan atas inisiatif kelompok untuk mempercepat akses ke lokasi posko.

Pelajaran Keselamatan dari Perairan Pedalaman

Tragedi ini membuka kembali perbincangan tentang standar keamanan mahasiswa KKN di wilayah dengan geografis ekstrem. Selama ini, fokus mitigasi lebih banyak pada risiko penyakit, hewan liar, atau kecelakaan darat, sementara risiko transportasi air sering terabaikan. Desa-desa di sepanjang Sungai Rawas memang mengandalkan perahu sebagai sarana utama warga, namun operator perahu biasanya adalah penduduk lokal yang hafal titik-titik rawan.

Pengamat keselamatan transportasi air menyarankan agar institusi pendidikan mewajibkan pendampingan warga lokal sebagai operator perahu setiap kali mahasiswa harus menggunakan jalur air. Selain itu, alat pelampung standar harus menjadi perlengkapan wajib, bukan opsional. Kapolsek setempat mengonfirmasi bahwa dari sembilan penumpang di perahu nahas itu, hanya tiga yang mengenakan pelampung saat kejadian.

Masyarakat sekitar juga diimbau untuk lebih peduli dengan memberikan peringatan dini jika melihat pergerakan perahu yang mencurigakan. Pemerintah desa akan memasang rambu peringatan di titik-titik sungai yang banyak terdapat batang kayu tenggelam agar kejadian serupa tidak berulang.

Kepergian sang mahasiswa menjadi luka bagi keluarga, rekan, dan komunitas akademiknya. Semoga peristiwa ini menjadi pemicu perbaikan tata kelola KKN di seluruh Indonesia, terutama dalam menilai risiko transportasi lokal yang sering kali dianggap remeh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User