Khutbah Jumat Safar Bahasa Sunda: Menelusuri Pelajaran dari Tradisi Rebo Wekasan
Setiap kali bulan Safar tiba, umat Muslim di tanah Pasundan kembali diingatkan pada salah satu warisan budaya yang telah mengakar kuat, yakni Rebo Wekasan. Hari Rabu terakhir di bulan kedua kalender H...
Setiap kali bulan Safar tiba, umat Muslim di tanah Pasundan kembali diingatkan pada salah satu warisan budaya yang telah mengakar kuat, yakni Rebo Wekasan. Hari Rabu terakhir di bulan kedua kalender Hijriyah ini kerap dimaknai secara khusus oleh sebagian masyarakat, terutama di kalangan Nahdliyin atau penganut tradisi pesantren. Tidak sedikit yang memanfaatkan momentum khutbah Jumat pada bulan Safar untuk menggali kembali makna di balik tradisi ini, sebagaimana yang dilakukan seorang khatib di salah satu masjid di wilayah Jawa Barat baru-baru ini. Dengan menggunakan bahasa Sunda yang akrab di telinga para jemaah, ia membawakan ceramah yang menggugah tentang hikmah di balik Rebo Wekasan—bukan sekadar ritual menolak bala, melainkan ajakan untuk memperbaiki kualitas keimanan.
Akar Tradisi dan Pelurusan Akidah
Dalam khutbahnya, sang penceramah membuka dengan menelusuri asal-usul Rebo Wekasan. Tradisi ini berakar pada keyakinan bahwa pada hari Rabu terakhir bulan Safar, Allah menurunkan pelbagai macam bencana dan ujian ke muka bumi. Keyakinan tersebut bersumber dari sejumlah qawl ulama klasik, meskipun tidak sedikit pula cendekiawan kontemporer yang mempertanyakan validitas dalilnya. Sang khatib menekankan bahwa terlepas dari perdebatan, yang lebih penting adalah bagaimana umat Islam menyikapi hari itu dengan akidah yang lurus. “Tong dugi ka tradisi ieu jadi cukang lantaran gugur kana tahayul.”—jangan sampai tradisi ini menjadi jalan terjerumus ke dalam khurafat atau keyakinan yang berlebihan terhadap hari sial. Pernyataan dalam bahasa Sunda itu sontak menciptakan keheningan reflektif di antara hadirin.
Khatib menjelaskan bahwa konteks Rebo Wekasan harus dipahami dalam kerangka tawakal dan ikhtiar yang seimbang. Menjadikan hari tertentu sebagai hari musibah tanpa dasar yang kuat dapat mengikis prinsip tauhid. Oleh karena itu, momen bulan Safar justru ideal dimanfaatkan untuk mengingatkan jemaah bahwa tidak ada satu pun hari yang membawa celaka secara hakiki kecuali atas kehendak Allah. Pemahaman ini selaras dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang melarang umatnya mempercayai mitos kesialan pada bulan Safar atau hari tertentu. Sebaliknya, membaca doa-doa yang diajarkan Rasulullah untuk memohon perlindungan dari segala keburukan justru menjadi praktik yang sangat dianjurkan.
Hikmah Spiritual: Lebih dari Sekadar Ritual
Inti khutbah tersebut menukik pada penggalian hikmah di balik amalan Rebo Wekasan. Sang khatib mengajak jemaah untuk melihat tradisi ini sebagai momentum muhasabah atau evaluasi diri. Di bulan Safar, yang dalam bahasa Arab berarti “kosong” atau “sepi”, terdapat ruang untuk merenungkan sejauh mana iman telah mengisi kekosongan jiwa. Ia mengutip pandangan sejumlah kiai Sunda tempo dulu yang memaknai Rebo Wekasan dengan memperbanyak sedekah, shalat sunnah, dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an—bukan karena takut pada kesialan, melainkan sebagai wujud syukur dan permohonan ampunan atas teledor selama setahun yang lalu. “Pangna aya amalan, supados urang langkung deukeut ka Nu Maha Kawasa, sanes ngajauhan bala wungkul.”—keberadaan amalan ini semata agar kita lebih dekat kepada Yang Mahakuasa, bukan sekadar menghindari musibah.
Lebih lanjut, khutbah menyoroti aspek sosial dari tradisi tersebut. Rebo Wekasan kerap diwarnai dengan acara kenduri atau selamatan yang dihadiri oleh keluarga besar dan tetangga. Momen semacam ini memperkuat tali silaturahmi dan solidaritas antarmuslim, yang esensinya selaras dengan ajaran Islam. Khatib menekankan bahwa sedekah yang dibagikan dalam bentuk makanan atau bingkisan kepada fakir miskin pada hari itu membuahkan pahala berlipat ganda. Dengan demikian, tradisi yang sekilas tampak lokal ini sejatinya mengandung nilai universal tentang kepedulian dan kemurahan hati yang ditinggalkan oleh para leluhur yang saleh.
Doa dan Amalan Praktis yang Diajarkan
Tidak lengkap rasanya jika sebuah khutbah tidak menyertakan tuntunan praktis. Pada sesi terakhir, khatib memandu para jemaah untuk membaca doa tolak bala yang familiar di kalangan pesantren Sunda. Doa yang diawali dengan kalimat Allāhumma innā na‘ūdzu bika min syarri hādzal balā’i wa min syarri mā yanzilu minas samā’i dan seterusnya, dilafalkan dengan penuh penghayatan. Sang penceramah menjelaskan artinya dalam bahasa Sunda: memohon perlindungan dari kejahatan bala yang turun dari langit maupun yang ada di bumi. Doa ini, katanya, selaras dengan ajaran Rasulullah yang senantiasa melindungi diri dengan zikir pagi dan petang, bukan hanya pada hari tertentu.
Ia juga menganjurkan amalan seperti memperbanyak shalawat di kala pagi menjelang, menghidupkan rumah dengan bacaan Surat Yasin, serta menyempatkan diri untuk shalat sunnah mutlak dua rakaat dengan niat khusus memohon keselamatan. Semua itu, tegas khatib, harus dilandasi oleh pemahaman bahwa keselamatan hakiki hanyalah milik Allah, dan manusia hanyalah hamba yang terus berharap akan limpahan rahmat-Nya. “Rebo Wekasan teh ngan saukur wasilah, lain tujuan akhir.”—Rebo Wekasan hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Kalimat pamungkas ini menjadi penegas pesan utama khutbah.
Relevansi Pesan untuk Kehidupan Modern
Di tengah gempuran arus modernitas yang kerap mengaburkan batas antara tradisi dan khurafat, khutbah berbahasa Sunda ini menawarkan kesejukan. Para pemuda yang mungkin sempat alergi terhadap istilah “tolak bala” diajak berdialog dengan bahasa yang membumi. Alih-alih menolak mentah-mentah warisan nenek moyang, jemaah diminta untuk menyaringnya dengan ilmu agama yang mumpuni. Dengan demikian, tradisi seperti Rebo Wekasan tidak luntur dimakan zaman, melainkan bertransformasi menjadi gerakan spiritual yang relevan dan membumi.
Khatib pun menutup khutbahnya dengan ajakan untuk menjadikan setiap hari sebagai Rebo Wekasan dalam arti yang lebih luas—hari untuk terus-menerus memohon perlindungan Allah, bukan hanya satu kali setahun. Bulan Safar bukanlah bulan keramat yang penuh marabahaya, melainkan bulan yang mengingatkan manusia bahwa kehampaan hanya bisa diisi dengan keimanan dan amal saleh. Pesan inilah yang terus bergema di masjid-masjid Sunda setiap kali bulan Safar tiba, menjembatani kearifan lokal dengan kemurnian tauhid. Warisan para kiai Sunda yang mewariskan doa-doa itu akhirnya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan fondasi spiritual yang kokoh untuk menghadapi segala zaman.
Comments (0)