Oct 20, 2026
factcheck

IMM Tuntut Transparansi Kejaksaan Agung Usut Kasus Febrie

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam wadah organisasi kemasyarakatan berbasis kampus turun ke jalan, tepatnya di depan kompleks Gedung Kejaksaan Agung, Kamis pagi. Mereka membawa sejumlah spanduk da...

IMM Tuntut Transparansi Kejaksaan Agung Usut Kasus Febrie

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam wadah organisasi kemasyarakatan berbasis kampus turun ke jalan, tepatnya di depan kompleks Gedung Kejaksaan Agung, Kamis pagi. Mereka membawa sejumlah spanduk dan poster yang secara tegas menyuarakan satu hal: pengungkapan kebenaran atas dugaan pelanggaran yang melibatkan seorang mantan pejabat tinggi kejaksaan. Nama yang menjadi pusat perhatian adalah Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Intelijen, yang belakangan menjadi buah bibir publik karena laporan masyarakat yang mencuat ke permukaan namun belum terlihat penanganan yang serius dari institusi penegak hukum.

Aksi yang digagas oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini berlangsung dengan tertib namun sarat tekanan moral. Orasi bergantian menggema dari atas mobil komando, menuntut agar Kejaksaan Agung tidak berlindung di balik tembok birokrasi dan benar-benar menjadikan kasus ini sebagai prioritas. Massa menolak praktik tuduh-menuduh tanpa bukti, tetapi juga menolak keheningan yang dipandang sebagai bentuk pembiaran terhadap potensi penyelewengan kewenangan di tubuh lembaga yang seharusnya menjadi ujung tombak pemberantasan tindak pidana khusus.

Desakan Transparansi dan Akuntabilitas

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan oleh koordinator lapangan, IMM menekankan tiga tuntutan utama. Pertama, meminta Kejaksaan Agung untuk segera membuka secara terang-benderang proses penanganan laporan yang menyangkut Febrie Adriansyah, tanpa ada informasi yang disembunyikan dari publik. Kedua, mendesak adanya pemeriksaan yang menyeluruh dan tidak tebang pilih terhadap seluruh pihak yang diduga terlibat, termasuk figur-figur internal yang memiliki posisi strategis. Ketiga, IMM meminta agar pemerintah dan pimpinan Kejaksaan Agung memberikan jaminan bahwa penegakan hukum di Indonesia tidak mengenal kasta, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap institusi penegak hukum dapat pulih kembali.

"Kami di sini bukan sekadar berteriak, tetapi menyampaikan suara hati nurani publik yang sudah lama menanti kejelasan. Kalau memang ada dugaan pelanggaran, tunjukkan penanganannya. Kalau tidak ada, jelaskan secara gamblang. Jangan biarkan kasus ini menguap begitu saja," ujar juru bicara aksi di hadapan para demonstran, disambut pekikan setuju dari kerumunan.

Jejak Kasus yang Mencuat

Nama Febrie Adriansyah bukanlah nama sembarangan di lingkungan korps Adhyaksa. Sebagai mantan Jaksa Agung Muda Intelijen, ia pernah memegang peran kunci dalam pengelolaan intelijen penegakan hukum dan pengamanan pembangunan strategis. Namun, sejumlah laporan masyarakat yang dialamatkan ke Kejaksaan Agung telah menempatkannya dalam sorotan. Publik mencatat, laporan tersebut telah disampaikan sejak beberapa waktu lalu, tetapi belum ada langkah progresif yang terlihat. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keterbukaan dan konsistensi internal dalam menangani perkara yang melibatkan salah satu putra terbaik institusi tersebut.

Sumber-sumber di lapangan mengonfirmasi bahwa substansi laporan berkaitan dengan dugaan pelanggaran etik serius dan potensi penyalahgunaan kewenangan. Namun, tanpa akses informasi yang memadai, spekulasi liar justru berkembang di tengah masyarakat. Itulah mengapa IMM mendesak agar Kejaksaan Agung mengeluarkan pernyataan resmi yang menjelaskan tahapan penanganan kasus, termasuk jika perkara tersebut telah diteruskan ke ranah pidana atau masih berada di tahap penelaahan internal.

Respon Kejaksaan dan Komitmen IMM

Hingga aksi berakhir sekitar pukul dua siang, perwakilan dari Kejaksaan Agung tidak tampak menemui massa secara langsung. Petugas keamanan dan penghubung kejaksaan menerima dokumen tuntutan dengan catatan akan disampaikan kepada pimpinan. Sebelumnya, pihak kejaksaan melalui keterangan tertulis singkat menyatakan bahwa setiap laporan masyarakat akan diproses sesuai prosedur hukum yang berlaku dan menjamin tidak ada intervensi dalam penanganannya. Namun, pernyataan tersebut belum cukup meredam kekecewaan para pengunjuk rasa yang menilai transparansi belum sepenuhnya diwujudkan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah menegaskan bahwa aksi ini bukanlah yang pertama dan tidak akan menjadi yang terakhir jika tuntutan tidak dipenuhi. Mereka berjanji untuk membentuk tim pemantau independen yang akan terus mengawal perkembangan kasus Febrie Adriansyah, memanfaatkan saluran hukum resmi seperti permintaan informasi publik serta audiensi ke Komisi Kejaksaan dan DPR. IMM juga mengajak seluruh elemen masyarakat sipil untuk memperkuat gerakan pengawasan agar setiap penyimpangan di internal kejaksaan bisa segera dihentikan dan diusut tuntas tanpa pandang bulu.

Dengan penuh semangat namun tetap dalam koridor damai, massa membubarkan diri seusai membacakan pernyataan penutup. Mereka meninggalkan pesan yang jelas: kepercayaan publik adalah fondasi utama penegakan hukum, dan kepercayaan itu hanya dapat dibangun di atas transparansi, kejujuran, dan ketegasan dalam menangani setiap perkara, terlebih yang menyangkut wajah institusi itu sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User