Huntara Aceh 99 Persen Rampung, Fokus Kini ke Percepatan Huntap
BANDA ACEH – Progres pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat korban bencana di Provinsi Aceh nyaris menyentuh garis akhir. Berdasarkan data terbaru yang disampaikan oleh Penjabat Gube...
BANDA ACEH – Progres pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat korban bencana di Provinsi Aceh nyaris menyentuh garis akhir. Berdasarkan data terbaru yang disampaikan oleh Penjabat Gubernur Aceh Safrizal ZA, angka penyelesaian huntara telah mencapai 99 persen dari total target yang ditetapkan. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam fase pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah daerah di provinsi ujung barat Indonesia tersebut.
Dalam keterangannya, Safrizal ZA mengungkapkan bahwa dari ribuan unit huntara yang direncanakan, hampir seluruhnya berdiri dan siap huni. Proses pengerjaan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan—mulai dari pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI/Polri, hingga relawan—berhasil mengejar target meskipun dihadapkan pada tantangan geografis dan cuaca yang kerap tidak bersahabat. “Pemerintah daerah bersama seluruh elemen telah bekerja keras siang malam. Kini tinggal satu persen lagi yang masih dalam tahap penyelesaian akhir di beberapa titik terpencil,” ujarnya.
Huntara: Solusi Cepat untuk Pengungsi
Hunian sementara didesain untuk memenuhi kebutuhan mendesak para korban yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam. Material ringan namun kokoh dipilih agar pembangunan bisa dilakukan dengan cepat, tanpa mengabaikan standar keamanan dan kenyamanan dasar. Setiap unit huntara dilengkapi dengan rangka baja ringan, dinding papan, serta atap seng, dan diupayakan memiliki akses terhadap air bersih serta sanitasi layak. Pemerintah pusat telah mengucurkan dana siap pakai yang langsung dikelola oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dengan pengawasan ketat agar tepat sasaran.
Safrizal menjelaskan bahwa keberhasilan pencapaian 99 persen ini tak lepas dari koordinasi yang solid. Gugus tugas percepatan huntara dibentuk sejak hari pertama darurat, memetakan lokasi prioritas, mengidentifikasi penerima manfaat, dan memastikan logistik konstruksi tak terhambat. Meski begitu, ia mengakui masih ada beberapa kendala seperti distribusi material ke wilayah pegunungan atau pesisir terluar yang hanya bisa dijangkau dengan perahu atau kendaraan khusus. Sisa satu persen tersebut menjadi fokus utama tim di lapangan agar dalam beberapa hari ke depan seluruh huntara rampung seratus persen.
Peralihan Strategi: Dari Huntara ke Huntap
Dengan hampir selesainya pembangunan huntara, perhatian kini dialihkan ke tahap berikutnya yang lebih fundamental: pembangunan hunian tetap (huntap). Safrizal ZA menegaskan bahwa pemerintah akan terus mempercepat proses pendirian rumah permanen bagi para penyintas. Percepatan ini menjadi prioritas karena huntara hanya bersifat temporer—biasanya maksimal dua tahun—dan masyarakat perlu segera menempati hunian yang lebih tahan lama, sehat, dan memberikan rasa aman jangka panjang.
Untuk mewujudkan percepatan huntap, Pemprov Aceh bersama BNPB dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kini tengah menyusun langkah strategis. Skema yang disiapkan meliputi penyediaan lahan yang aman dari zona rawan bencana, desain rumah tahan gempa, serta mekanisme pendanaan yang transparan. Beberapa opsi tengah dikaji, termasuk pembangunan huntap secara mandiri oleh masyarakat dengan dukungan stimulan dari pemerintah, serta pembangunan massal oleh kontraktor yang telah diverifikasi. Safrizal berjanji proses ini akan dilakukan dengan supervisi ketat agar tak terjadi penyimpangan.
Sejumlah kepala daerah di kabupaten/kota terdampak menyambut baik arahan percepatan tersebut. Mereka melaporkan bahwa data calon penerima huntap sudah diverifikasi dan dipetakan, sehingga begitu dana cair, pekerjaan fisik bisa langsung dimulai. Relokasi bagi warga yang sebelumnya tinggal di kawasan rawan longsor atau banjir bandang juga menjadi bagian tak terpisahkan dari rencana tata ruang huntap. Pemerintah provinsi menargetkan agar peletakan batu pertama huntap dapat dilakukan segera setelah seluruh huntara resmi dihuni.
Respons dan Harapan Masyarakat
Di lapangan, para penyintas menyambut gembira perkembangan ini. Beberapa warga yang telah menempati huntara mengaku bersyukur karena setidaknya memiliki atap yang cukup melindungi dari hujan dan terik matahari. Namun, mereka juga menyimpan harapan besar agar huntap benar-benar terwujud dalam waktu yang tidak terlalu lama. “Kami ingin segera punya rumah sendiri yang permanen, biar bisa hidup tenang kembali,” tutur salah seorang penerima huntara di kawasan Aceh Barat yang enggan disebut namanya.
Untuk menjawab harapan itu, Safrizal ZA meminta semua pihak bersabar dan tetap mendukung program pemerintah. Ia menekankan bahwa pembangunan huntap tidak bisa dikebut tanpa perencanaan matang, mengingat ini menyangkut keselamatan dan kenyamanan warga untuk puluhan tahun ke depan. “Kami paham betul kerinduan masyarakat untuk punya rumah kembali. Karena itu, kami tak akan berhenti pada huntara. Huntap adalah komitmen kami yang harus tuntas dengan baik,” imbuhnya.
Observasi di beberapa lokasi calon huntap menunjukkan bahwa penyiapan infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan jaringan air tengah dikebut. Alat berat sudah tampak melakukan pematangan lahan di beberapa titik. Diharapkan seluruh proses transisi dari masa darurat ke pemulihan berjalan mulus tanpa gejolak. Dengan selesainya huntara dan dimulainya akselerasi huntap, babak baru kehidupan para penyintas bencana di Aceh diharapkan segera terbuka, membawa optimisme menuju kemandirian dan kesejahteraan yang lebih kokoh.
Comments (0)