Fenomena Memelihara Batu: Tren Hobi Aneh dari Korea dan Cina

Sebuah kebiasaan yang tidak lazim tengah menyebar di kalangan anak muda Korea Selatan dan Tiongkok: merawat batu sebagai hewan peliharaan. Benda yang selama ini dianggap tak bernyawa itu kini diberi n...

Fenomena Memelihara Batu: Tren Hobi Aneh dari Korea dan Cina

Sebuah kebiasaan yang tidak lazim tengah menyebar di kalangan anak muda Korea Selatan dan Tiongkok: merawat batu sebagai hewan peliharaan. Benda yang selama ini dianggap tak bernyawa itu kini diberi nama, dimandikan, didandani, dan ditempatkan di sudut kamar layaknya anggota keluarga baru. Fenomena ini memicu perdebatan sekaligus rasa ingin tahu publik mengenai alasan manusia rela menjadikan benda mati sebagai objek kasih sayang.

Perkembangan Tren di Dua Negara

Berdasarkan penelusuran, praktik memelihara batu di Korea Selatan mulai mengemuka seiring meningkatnya konten media sosial yang menampilkan batu-batu dengan nama dan karakter tertentu. Sejumlah tokoh hiburan turut memperlihatkan koleksi batu mereka di depan kamera, menyebut batu-batu itu dengan panggilan sayang dan menceritakan keseharian bersama mereka. Perilaku yang semula dianggap iseng ini cepat ditiru oleh para penggemar, lalu berkembang menjadi kebiasaan yang dijalankan secara serius. Dalam waktu singkat, komunitas daring bermunculan dan berbagi dokumentasi batu peliharaan masing-masing, lengkap dengan ritual perawatan yang dijalankan secara rutin.

Di Tiongkok, tren serupa tumbuh di platform e-dagang dan media sosial. Batu peliharaan dijual lengkap dengan aksesori seperti tempat tidur mini, topi, hingga pakaian rajutan. Para penjual menawarkan batu dalam berbagai ukuran dan karakter, sementara pembeli membagikan ulasan serta foto keseharian bersama batu mereka. Volume transaksi dan percakapan daring yang meningkat menandakan bahwa kebiasaan ini telah berubah dari candaan menjadi pasar tersendiri.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Pada dekade 1970-an, konsep batu peliharaan pernah menjadi barang dagangan populer di Amerika Serikat. Perbedaannya, tren terkini di Asia Timur hadir dalam ekosistem digital yang memungkinkan pemilik saling terhubung, memamerkan koleksi, dan membentuk identitas bersama secara luas.

Alasan Psikologis di Balik Hobi

Para pengamat menilai kecenderungan merawat benda mati berkaitan erat dengan kebutuhan emosional manusia modern. Sebuah batu tidak menuntut makanan, perawatan medis, atau perhatian khusus, sehingga cocok bagi individu dengan mobilitas tinggi maupun keterbatasan ekonomi. Nilai jual utamanya justru terletak pada kesederhanaan itu: pemilik tetap memperoleh rasa memiliki dan tanggung jawab tanpa harus menanggung beban biaya yang besar.

Faktor lain yang sering disebut adalah mekanisme antropomorfisme, yaitu kecenderungan manusia melekatkan sifat makhluk hidup pada benda mati. Dengan memberi nama dan kepribadian, pemilik membangun relasi imajiner yang menghadirkan rasa tenang di tengah tekanan hidup. Kondisi ini diperkuat oleh situasi sosial seperti isolasi pascapandemi dan tekanan ekonomi yang mendorong generasi muda mencari pelipur lara berbiaya rendah.

Makna Sosial dan Respons Publik

Di satu sisi, tren ini dipandang sebagai bentuk pelarian yang wajar dan kreatif di tengah rutinitas yang melelahkan. Di sisi lain, sebagian kalangan menganggapnya sebagai gejala keterasingan sosial yang patut dicermati. Terlepas dari perdebatan tersebut, tingginya interaksi pada konten terkait menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar lelucon sesaat, melainkan cerminan perubahan cara manusia memaknai hubungan dan kepemilikan.

Hobi memelihara batu juga menyingkap kecenderungan generasi muda untuk mencari makna pada hal-hal kecil. Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, sebuah benda sederhana menjadi medium untuk menemukan kendali, ketenangan, dan bentuk kasih sayang tanpa syarat. Dengan demikian, tren ini dapat dibaca sebagai respons budaya terhadap zaman yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.

Dari sudut pandang budaya, fenomena ini memperlihatkan bagaimana makna sebuah benda dapat berubah mengikuti konteks zaman. Batu yang dahulu hanya dianggap sebagai benda mati kini menjadi simbol perlawanan terhadap konsumsi berlebihan, sekaligus pengingat bahwa ketenangan tidak selalu harus dibeli dengan harga mahal. Itulah sebabnya tren memelihara batu terus bertahan dan meluas, melampaui batas sekadar kegemaran sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User