Double-Texting: Psikologi di Balik Mengirim Pesan Berulang

Kebiasaan mengirim pesan kedua sebelum pesan pertama mendapatkan balasan — yang dikenal sebagai double-texting — menjadi salah satu fenomena komunikasi digital yang paling sering dibahas dalam kon...

Double-Texting: Psikologi di Balik Mengirim Pesan Berulang

Kebiasaan mengirim pesan kedua sebelum pesan pertama mendapatkan balasan — yang dikenal sebagai double-texting — menjadi salah satu fenomena komunikasi digital yang paling sering dibahas dalam konten populer. Berdasarkan verifikasi atas klaim yang beredar, perilaku ini tidak berdiri sendiri; ia berkaitan erat dengan kondisi psikologis pengirimnya. Artikel ini memeriksa klaim bahwa rasa tidak aman dan ketakutan kehilangan ketertarikan lawan bicara membuat seseorang lebih sering melakukan double-texting, dengan menelusuri bukti dari teori psikologi komunikasi.

Klaim dan Sumber Klaim

Klaim: "Rasa tidak aman dan takut kehilangan ketertarikan dari lawan bicara juga bisa membuat kita lebih sering melakukan double-texting."

Klaim tersebut muncul dalam konten edukasi tentang kebiasaan berkirim pesan yang banyak dibagikan di platform media sosial. Narasinya menempatkan double-texting sebagai gejala emosional, bukan sekadar gaya komunikasi. Untuk menguji kebenarannya, verifikasi dilakukan dengan menelusuri literatur psikologi komunikasi dan teori kelekatan (attachment theory) yang dirumuskan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth, dua tokoh yang karyanya menjadi rujukan standar dalam kajian hubungan antarmanusia. Teori ini menjadi kerangka utama karena menjelaskan bagaimana kebutuhan akan kepastian dari orang lain terbentuk sejak masa kanak-kanak dan bertahan hingga dewasa.

Verifikasi: Jejak Psikologis di Balik Pesan Susulan

Teori kelekatan menunjukkan bahwa individu dengan gaya kelekatan cemas (anxious attachment) memiliki kebutuhan tinggi akan kepastian dan validasi dari orang lain. Dalam komunikasi digital, kebutuhan ini termanifestasi ketika jeda balasan diinterpretasikan sebagai penolakan atau kehilangan minat. Faktanya adalah, sejumlah kajian tentang komunikasi berbasis teks menemukan bahwa kecemasan atas jeda balasan mendorong pengirim menambah pesan untuk menarik kembali perhatian lawan bicara. Temuan ini sejalan dengan klaim yang diperiksa: rasa tidak aman memang dapat memperbesar frekuensi double-texting.

Namun, verifikasi tidak berhenti pada titik itu. Data menunjukkan bahwa dorongan mengirim pesan susulan juga dipicu oleh faktor yang tidak terkait kecemasan, seperti kebiasaan pribadi, tingkat keakraban hubungan, dan persepsi bahwa pesan tambahan bersifat informatif. Menyimpulkan rasa tidak aman sebagai satu-satunya pemicu — atau pemicu utama yang bersifat universal — bertentangan dengan temuan tersebut. Yang menarik, klaim asli menggunakan kata "bisa", sehingga tidak menegaskan hubungan kausal tunggal. Berdasarkan verifikasi, pemilihan kata ini menjaga klaim tetap berada dalam batas yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Fakta di Balik Perilaku Double-Texting

Berdasarkan verifikasi, fakta yang dapat ditegaskan adalah sebagai berikut. Pertama, rasa tidak aman dan takut kehilangan ketertarikan lawan bicara merupakan faktor psikologis yang didukung teori dan pengamatan perilaku sebagai pendorong double-texting. Kedua, faktor tersebut bukan satu-satunya penjelasan; gaya komunikasi, konteks hubungan, dan kebiasaan digital ikut menentukan frekuensi pengiriman pesan. Ketiga, yang memicu dorongan mengirim pesan susulan pada individu dengan kecemasan relasional adalah interpretasi sosial atas jeda balasan, bukan jeda itu sendiri.

Klaim vs Fakta: Klaim menyebut rasa tidak aman dan takut kehilangan ketertarikan sebagai pemicu double-texting. Faktanya adalah kedua faktor itu memang berkontribusi, tetapi tidak akurat jika dijadikan satu-satunya penjelasan atas perilaku tersebut.

Perlu ditegaskan pula bahwa tidak semua double-texting bersifat problematis. Dalam praktik komunikasi sehari-hari, mengirim pesan tambahan untuk melengkapi informasi dianggap wajar dan bahkan produktif. Yang membedakan adalah motivasinya: apakah didorong kecemasan atau kebutuhan informatif. Pengamatan terhadap pola ini membantu membedakan perilaku adaptif dari perilaku yang lahir dari ketidakamanan emosional. Individu yang menyadari kecenderungan ini dapat melatih cara merespons jeda balasan dengan lebih tenang, misalnya dengan menahan diri memberi makna negatif pada keterlambatan respons.

Kesimpulan

Berdasarkan keseluruhan verifikasi terhadap klaim, sumber, dan bukti psikologis yang tersedia, klaim bahwa rasa tidak aman dan takut kehilangan ketertarikan lawan bicara bisa mendorong seseorang lebih sering melakukan double-texting dinilai SEBAGIAN BENAR. Bagian yang benar: kedua faktor emosional tersebut terbukti berkontribusi terhadap perilaku ini menurut teori kelekatan dan pengamatan komunikasi digital. Bagian yang tidak lengkap: klaim tidak menyebut faktor lain yang turut berperan, sehingga berpotensi menyesatkan bila dibaca sebagai penjelasan tunggal. Publik disarankan membaca pernyataan semacam ini sebagai gambaran umum, bukan diagnosis, dan tidak menjadikannya dasar untuk menilai karakter seseorang hanya dari kebiasaan berkirim pesan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
khrisna-pertiwi

Reporter Kebijakan Publik. Menganalisis dampak kebijakan terhadap masyarakat.

Comments (0)

User