Dari Garut ke Dunia: Perjuangan Abah Koko dan Karung Goninya
Perjalanan Panjang di Balik Setiap JahitanDi tengah deru mesin dan tumpukan karung goni bekas, Kosasih menatap setiap lipatan kain dengan mata berpengalaman. Lebih dari dua dekade lamanya, pria yang a...
Perjalanan Panjang di Balik Setiap Jahitan
Di tengah deru mesin dan tumpukan karung goni bekas, Kosasih menatap setiap lipatan kain dengan mata berpengalaman. Lebih dari dua dekade lamanya, pria yang akrab disapa Abah Koko ini menjadikan limbah pertanian sebagai medium karya seni yang mengantarnya berkomunikasi dengan pasar global. Perjalanan yang dimulai sejak tahun 1997 itu bukan sekadar rekam jejak usaha, melainkan catatan panjang tentang ketahanan seorang perajin dalam menghadapi gelombang perubahan ekonomi dan selera konsumen.
Karung goni, material yang kerap dikesampingkan setelah proses panen, di tangannya bertransformasi menjadi figur-figur unik bernilai seni tinggi. Dari bentuk karakter tradisional hingga desain kontemporer yang diminati pasar luar negeri, setiap produk menuntut ketelitian dan pemahaman mendalam akan tekstur bahan alami tersebut. Prosesnya tidak instan; seleksi bahan baku, pencucian, pengeringan, penjahitan, hingga sentuhan akhir yang memberikan karakter pada setiap wajah figur, semuanya dikerjakan dengan standar ketat yang telah disempurnakan selama bertahun-tahun.
Ketika Keuntungan Tak Lagi Sebesar Dulu
Memasuki usia ke-28 berkarya, Abah Koko menghadapi realitas yang berbeda dari masa-masa kejayaan dahulu. Kenaikan harga bahan baku, persaingan dengan produk impor berbahan sintetis, serta perubahan dinamika pasar lokal telah menekan margin keuntungan secara signifikan. Ia mengakui bahwa rupiah yang masuk ke kas usaha saat ini tidak lagi sebesar ketika permintaan pertama kali melonjak dua dekade silam. Namun angka-angka yang menyusut itu ternyata tidak cukup kuat untuk menggoyahkan tekadnya melanjutkan tradisi yang telah dibangun dengan keringat sendiri.
Berbeda dengan banyak pelaku usaha kecil yang memilih beralih bidang ketika pasar lesu, pria ini justru memilih bertahan dengan menyempurnakan kualitas dan membuka jalur distribusi baru. Pasar internasional menjadi salah satu ruang yang berhasil ditembusnya. Figur-figur karung goni hasil karyanya kini tidak hanya menghiasi rak toko lokal, melainkan juga menempuh perjalanan panjang melintasi batas negara. Pesanan dari berbagai negara menandakan bahwa keaslian dan kearifan lokal masih memiliki tempat di hati konsumen mancanegara yang semakin menjauhi produk massal.
Filosofi Bertahan di Tengah Badai
Bagi Abah Koko, bengkel kerja yang berdiri sejak akhir tahun 1990-an bukan sekadar tempat mencari nafkah. Setiap figur yang lahir dari sela-sela jarinya membawa misi melestarikan kekayaan budaya Indonesia dalam wujud yang fungsional dan estetis. Ia percaya bahwa karung goni yang terbuat dari serat alami menyimpan narasi tentang kehidupan agraris bangsa ini, narasi yang patut disampaikan kepada generasi mendatang meski harus dibungkus dalam kemasan modern agar diterima pasar global.
Kesetiaannya pada profesi ini juga didorong oleh tanggung jawab sosial yang ia rasakan. Beberapa pekerja di sekitar tempat tinggalnya menggantungkan sebagian penghidupan pada industri rumahan ini. Memutuskan berhenti berarti tidak hanya menutup sebuah usaha pribadi, tetapi juga menghentikan sumber mata pencaharian bagi tangan-tangan yang turut andil dalam proses produksi. Oleh karena itu, meski keuntungan menipis, ia terus menggulirkan roda produksi dengan optimisme yang dijaga secara hati-hati.
Di era digital yang mengedepankan kecepatan dan seragam, keberadaan Abah Koko menjadi pengingat bahwa ketahanan dan kejujuran pada akar budaya bisa menjadi modal yang tak ternilai. Setiap karung goni yang berhasil terbang ke luar negeri bukan hanya komoditas, melainkan bukti nyata bahwa karya tangan anak negeri mampu bersaing di kancah internasional asalkan diiringi dengan komitmen dan ketekunan yang tak kenal lelah.
Comments (0)