Saturday, 04 July 2026
HOMECARI
Nasional

Otak yang Diam-Diam Membusuk: Saat Scroll dan AI Bikin Kita Malas Berpikir

admin — 04 July 2026, 06:01
Daftar Isi
  1. Bukan Sekadar Lelucon Generasi Z
  2. Ketika AI Jadi Pelarian dari Berpikir
  3. Negara Akhirnya Turun Tangan
  4. Lantas, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Photo by Hal Gatewood on Unsplash

Brain rot bukan lagi sekadar lelucon di media sosial. Coba ingat-ingat: kapan terakhir kali kamu duduk lebih dari sepuluh menit tanpa membuka HP? Bagi sebagian besar dari kita, jawabannya mungkin "sudah lama sekali, dan aku tidak ingat persisnya." Itulah gejala paling sederhana dari fenomena yang dalam dua tahun terakhir berubah dari sekadar candaan internet menjadi keresahan serius: brain rot.

Istilah ini sebenarnya bukan baru. Oxford University Press bahkan menahbiskannya sebagai Word of the Year 2024, merekam lonjakan penggunaannya hingga 230 persen dalam setahun. Tapi yang menjadikannya layak dibahas serius bukan viralitasnya di media sosial, melainkan karena ia mulai dikonfirmasi lewat riset, kebijakan negara, dan—yang paling mengkhawatirkan—lewat pengalaman langsung jutaan orang Indonesia yang merasa makin sulit fokus, makin malas berpikir dalam, dan makin bergantung pada layar untuk mengisi setiap jeda waktu kosong.

Bukan Sekadar Lelucon Generasi Z

Harian Kompas, melalui jajak pendapat Litbang dan wawancara dengan 17 pakar lintas disiplin pada 2025, menemukan sesuatu yang patut direnungkan: 81,8 persen pakar sepakat brain rot adalah istilah yang menggambarkan penurunan nyata pada fungsi kognitif akibat konsumsi konten digital berlebihan. Yang menarik, 84 persen pakar tersebut menyebut generasi Z dan generasi alfa sebagai kelompok paling terdampak, dan dampaknya disebut lebih parah pada kelompok menengah ke bawah karena literasi digital yang lebih rendah dan minimnya alternatif hiburan.

Hasil jajak pendapat itu pun konsisten: generasi Z tercatat sebagai kelompok dengan gangguan psikis akibat penggunaan gawai berlebihan tertinggi, sekitar seperempat dari populasi yang disurvei. Seorang neurosaintis dari RSCM yang diwawancarai Kompas menjelaskan ini bukan metafora belaka—ada hipoaktivasi otak yang menyebabkan fungsi otak menurun akibat penggunaan internet yang berlebihan.

Yang membuat fenomena ini sulit dilawan adalah desainnya yang memang disengaja. Seorang pengamat media digital dari Monash University Indonesia menyebut platform-platform ini ingin penggunanya tetap berada di sana selama mungkin, dan kini makin canggih membaca perilaku pengguna karena ditenagai AI. Bahkan dokumen internal TikTok yang dibocorkan ke The New York Times mengonfirmasi algoritmanya memang dirancang untuk memaksimalkan retensi dan durasi tonton, bukan untuk memberi apa yang sebenarnya dibutuhkan pengguna.

Ketika AI Jadi Pelarian dari Berpikir

Brain rot generasi lama soal-konten-receh kini punya saudara baru: ketergantungan pada AI generatif untuk berpikir. Sebuah riset MIT Media Lab tahun 2025 yang banyak dikutip—meski belakangan juga dikritik beberapa peneliti lain karena ukuran sampelnya kecil—merekam aktivitas otak orang yang menulis esai dengan bantuan ChatGPT dibandingkan yang menulis sendiri. Hasilnya, partisipan yang menulis tanpa alat bantu menunjukkan jaringan konektivitas otak yang paling kuat dan paling tersebar, sementara pengguna AI menunjukkan konektivitas paling lemah. Istilah yang mereka pakai untuk fenomena ini: cognitive debt, utang kognitif yang baru terasa belakangan, ketika kita sudah terlalu sering melimpahkan tugas berpikir ke mesin.

Ini bukan berarti AI harus dijauhi. Riset dari kalangan akademisi Indonesia sendiri menunjukkan gambaran yang lebih berimbang: ChatGPT bisa berperan sebagai perancah kognitif yang membantu mahasiswa pada tahap awal dan menengah proses berpikir kritis, asal penggunaannya disertai kesadaran. Masalahnya muncul ketika AI dipakai secara pasif, tanpa pernah mempertanyakan jawabannya—dan riset yang sama menemukan tanpa intervensi yang eksplisit, pemanfaatan ChatGPT tidak banyak menyumbang pada kemampuan berpikir kritis yang fundamental.

Negara Akhirnya Turun Tangan

Keresahan ini akhirnya direspons pemerintah lewat langkah yang cukup berani. Awal 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital menerbitkan aturan turunan dari PP Tunas yang menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada delapan platform berisiko tinggi—YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox. Menteri Komdigi Meutya Hafid menegaskan langkah ini diambil untuk melindungi masa depan anak di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, bukan untuk mengorbankan mereka demi teknologi.

Tak berhenti di media sosial, pemerintah lewat SKB tujuh kementerian juga melarang siswa pendidikan dasar dan menengah memakai AI instan seperti bertanya langsung ke ChatGPT untuk menyelesaikan tugas sekolah—meski penggunaan teknologi dalam proses belajar secara umum tetap dibuka.

Lantas, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Regulasi adalah jaring pengaman, bukan solusi tunggal. Kebiasaan dibentuk jauh sebelum aturan turun, dan akan terus berjalan walau aturan ada. Yang sebenarnya kita butuhkan adalah kesadaran kolektif bahwa scrolling tanpa henti dan mengandalkan AI untuk segala hal bukan tanda kemajuan, melainkan jalan pintas yang ada harganya—harga yang kita bayar dengan kemampuan fokus, daya pikir kritis, dan kapasitas untuk duduk diam bersama pikiran sendiri tanpa panik mencari distraksi.

Brain rot bukan takdir generasi digital. Ia adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan kecil yang diulang setiap hari: pilihan untuk membuka aplikasi alih-alih buku, pilihan untuk bertanya ke chatbot alih-alih berpikir lima menit lebih lama, pilihan untuk mengisi setiap keheningan dengan notifikasi. Kabar baiknya, karena ini soal pilihan, ia juga bisa diubah—satu keputusan sadar pada satu waktu.

Sumber: Kumparan Tekno

a
admin⏱ 4 menit baca

admin adalah kontributor di Lurusin. Artikel ini diterbitkan pada 04 July 2026.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!