Friday, 03 July 2026
HOMECARI
Nasional

Lewat Smart Farming hingga Pendampingan Psikologis, UKSW Entaskan Stunting di Salatiga

admin — 03 July 2026, 09:59
Lewat Smart Farming hingga Pendampingan Psikologis, UKSW Entaskan Stunting di Salatiga

Penanganan masalah stunting tidak bisa diselesaikan hanya dengan membagikan makanan bergizi. Prinsip inilah yang dipegang oleh Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Lewat kolaborasi dengan Pemerintah Kota Salatiga dalam Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), UKSW menghadirkan program intervensi yang menyentuh akar rumput, mulai dari pemantauan fisik anak hingga pemberdayaan ekonomi warga lewat sektor pertanian modern.

Menggandeng Dinas Pemberdayaan Perempuan, Pelindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Salatiga, UKSW menyusun strategi berlapis. Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UKSW dilibatkan untuk merancang menu bergizi seimbang, yang kemudian diolah bersama kader Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT). Selama enam bulan, anak-anak sasaran menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) yang dipantau setiap hari.

Ketua tim, Dr. Ir. Sri Suwartiningsih, M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (FISKOM), menegaskan bahwa kunci keberhasilan program ini ada pada pendekatan holistiknya. “Kami tidak cuma fokus pada perbaikan nutrisi. Aspek psikologi, sosial, dan ekonomi keluarga juga ikut disentuh. Selama setengah tahun berjalan, anak-anak dikawal langsung oleh asisten lapangan. Kami juga menggelar sesi konseling psikologi, pendekatan sosiologi, hingga parent meeting,” jelas Dr. Sri Suwartiningsih.

Solusi Berkelanjutan Lewat Pertanian Cerdas

Strategi ini terbukti efektif. Pada gelombang pertama, 16 dari 20 anak binaan berhasil lepas dari status stunting. Sementara empat anak lainnya masih dalam pemantauan intensif karena kondisi berkebutuhan khusus.

Masuk ke tahun kedua, UKSW kembali mengasuh 20 anak stunting dengan menggunakan inovasi baru Smart Farming Anti Stunting. Bekerja sama dengan Fakultas Pertanian dan Bisnis (FPB) UKSW, warga diajak membudidayakan sayuran organik seperti selada, sawi, seledri, kangkung, dan daun bawang.

Hasil dari kebun digital ini punya fungsi ganda. Selain dipasok sebagai bahan baku PMT yang sehat dan murah, program ini juga menjadi ladang penghasilan baru bagi warga sekaligus menciptakan kemandirian pangan di tingkat lingkungan. Dr. Sri Suwartiningsih berharap, suntikan inovasi ini mampu membawa seluruh 20 anak di gelombang kedua keluar dari jerat stunting.

Progres Positif dan Respons Hangat Orang Tua

Dampak nyata program ini terlihat jelas dari data evaluasi per 26 Juni 2026. Grafik tumbuh kembang anak menunjukkan perkembangan positif, 31 anak mengalami kenaikan berat badan, dan 28 anak mencatatkan penambahan tinggi badan.

Manfaat konkret ini diakui langsung oleh para orang tua. Salah satu nya, Servatius Asprila Angga Pradana, sebagai bapak yang berkisah bagaimana variasi menu dari program GENTING menginspirasinya saat memasak di rumah.

“Dulu anak saya susah sekali makan ayam. Tapi begitu diolah jadi sate lilit, dia lahap. Ternyata anak-anak memang lebih tertarik dengan bentuk makanan yang unik,” akunya.

Ia juga menyadari adanya lompatan perkembangan pada buah hatinya. “Tinggi dan berat badannya naik dibanding dulu. Yang bikin senang, perkembangannya secara kecerdasan juga mulai kelihatan. Kami sangat berharap program seperti ini bisa terus berjalan,” tambahnya.

Menghapus Stigma, Membangun Generasi Hebat

Lebih dari sekadar proyek kesehatan, gerakan ini berhasil mengikis stigma negatif seputar stunting di masyarakat dan mengubah sudut pandang orang tua dalam mendidik anak.

Dr. Sri Suwartiningsih memungkasi bahwa keberhasilan penanggulangan stunting adalah buah dari kerja kolektif yang multisektoral.

“Program ini menjadi cetak biru bahwa urusan stunting itu bukan cuma soal kesehatan fisik, tapi juga tentang bagaimana mengubah perilaku anak, melibatkan emosional orang tua, dan menggerakkan lingkungan sekitar. Stunting tidak boleh jadi label negatif, melainkan sebuah alarm agar kita semua bergerak bersama demi mencetak generasi masa depan yang sehat dan tangguh,” tutupnya.

Program ini menegaskan komitmen UKSW dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) yakni poin ke-2 yaitu tanpa kelaparan, poin ke-3 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera, poin ke-12 konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta poin ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai tujuan. Selain itu, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen UKSW terhadap program Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Berdampak yang selaras dengan Asta Cita ke-4 yaitu penguatan sumber daya manusia (pendidikan, sains, teknologi, kesehatan) dan poin ke-5 yaitu hilirisasi, inovasi, dan penguatan produktivitas ekonomi berbasis riset atau teknologi.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak 1956 dengan 15 fakultas dan 65 program studi di jenjang D3 hingga S3 dengan 36 prodi terakreditasi Unggul dan A. Terletak di Salatiga, UKSW dikenal dengan julukan Kampus Indonesia Mini, mencerminkan keragaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah. Selain itu, UKSW juga dikenal sebagai “Creative Minority” yang berperan sebagai agen perubahan dan inspirasi bagi masyarakat.  Salam Satu Hati UKSW!

Lewat Smart Farming hingga Pendampingan Psikologis, UKSW Entaskan Stunting di Salatiga

The post Lewat Smart Farming hingga Pendampingan Psikologis, UKSW Entaskan Stunting di Salatiga appeared first on Universitas Kristen Satya Wacana.

Sumber: Universitas Kristen Satya Wacana

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!