Anak Autis Diejek, Tanda Bahaya Krisis Empati di Ruang Publik
Sebuah insiden memilukan terjadi di sebuah taman kota di Jakarta Selatan pada akhir pekan lalu. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang mengidap gangguan spektrum autisme (ASD) menjadi sasar...
Sebuah insiden memilukan terjadi di sebuah taman kota di Jakarta Selatan pada akhir pekan lalu. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun yang mengidap gangguan spektrum autisme (ASD) menjadi sasaran ejekan dan olok-olok dari sejumlah pengunjung ketika ia menunjukkan perilaku stimming–gerakan berulang yang lazim dilakukan penyandang autisme untuk menenangkan diri. Sang ibu yang mendampingi pun tertegun dan merasa tersayat hati. Rekaman amatir yang diunggah ke media sosial memperlihatkan anak tersebut menutup telinga sambil menangis.
Respons Psikolog: Manifestasi Diskriminasi Terselubung
Dr. Rina Setyawati, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis yang menekuni isu disabilitas perkembangan, menilai peristiwa tersebut bukan sekadar kenakalan iseng. “Ini adalah bukti nyata dari minimnya literasi publik tentang autisme. Ejekan lahir dari ketidakmampuan menerima perbedaan. Itu adalah diskriminasi yang sudah mendarah daging,” ujarnya melalui sambungan video pada Senin (12/5). Ia menegaskan, menertawakan seorang anak berkebutuhan khusus di hadapan umum merupakan bentuk perundungan psikologis yang bisa meninggalkan trauma berkepanjangan. “Yang diperolok adalah cara dia menenangkan diri, tapi sesungguhnya yang mereka olok adalah identitasnya sebagai manusia yang berbeda,” tambahnya. Menurut Dr. Rina, kasus ini mencerminkan bahwa stigma dan pandangan negatif terhadap penyandang disabilitas masih kuat mengakar di masyarakat.
Ketimpangan Regulasi dan Budaya Sosial
Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas PBB dan memiliki Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 yang menjamin hak inklusi. Namun, di lapangan, efektivitas regulasi itu kerap tergerus oleh norma sosial yang abai dan stereotip negatif. Sebuah studi dari Lembaga Penelitian Kesejahteraan Sosial tahun 2023 mencatat bahwa 7 dari 10 responden di kota besar tidak pernah mendapatkan edukasi formal tentang cara berinteraksi dengan penyandang disabilitas. Ketiadaan pengetahuan itu menciptakan jurang kesalahpahaman, sehingga perilaku seperti menghindar, menertawakan, atau bahkan mengusir dianggap wajar. Psikolog Dr. Rina menyoroti bahwa autisme sering tanpa tanda fisik, sehingga respons “aneh” atau “tidak sopan” yang diberikan penyandangnya langsung dihakimi tanpa konteks neurologis. “Ruang publik kita masih dirancang hanya untuk mereka yang dianggap normal. Padahal, di sinilah seharusnya toleransi diuji,” imbuhnya.
Luka yang Tak Kasat Mata: Dampak Trauma
Keluarga korban yang identitasnya dirahasiakan mengaku bahwa putra mereka mengalami kemunduran perilaku pascainsiden. “Dia jadi lebih sering menyendiri, sering menangis tanpa sebab. Padahal sebelumnya terapi menunjukkan kemajuan,” cerita sang ibu, Rabu (14/5). Dr. Rina menjelaskan bahwa pada anak autis, pengalaman penolakan sosial seperti ini dapat memicu regresi, meningkatnya kecemasan, serta memperkuat penghindaran terhadap lingkungan ramai. Bagi orang tua, beban rasa bersalah dan malu kerap lebih parah daripada luka fisik. “Mereka terus-menerus dihantui pertanyaan: apakah saya gagal menjadi pelindung?” kata psikolog itu. Trauma sekunder ini, lanjutnya, memperburuk kesehatan mental keluarga dan menghambat peran mereka sebagai pendukung utama tumbuh kembang anak.
Membangun Kembali Rasa Empati yang Hilang
Komunitas orang tua anak autis berinisiatif mengadakan “Aksi Empati” di taman tersebut, membagikan bunga matahari–simbol disabilitas nonfisik–dan mengedukasi pengunjung tentang autisme. Ketua Yayasan Pelita Hati, Ratnawati Dewi, menekankan bahwa solusi jangka panjang bukan hanya sanksi, melainkan transformasi budaya. “Kita tidak bisa memenjarakan semua orang yang tidak paham. Yang harus dipenjarakan adalah kebodohan. Dan itu hanya bisa diatasi lewat pendidikan inklusif sejak dini,” katanya. Pemerintah daerah setempat menyatakan akan mewajibkan pelatihan disabilitas bagi petugas fasilitas umum. Namun, para aktivis menilai komitmen itu masih bersifat reaktif. Yang diperlukan adalah kampanye nasional yang masif, menggugah kesadaran bahwa autisme dan disabilitas bukan aib atau bahan lelucon.
Kasus anak autis yang terpinggirkan oleh tawa publik ini adalah alarm darurat. Ia mengumandangkan bahwa gedung-gedung pencakar langit, taman yang indah, dan kota yang tertata rapi tidak bernilai jika hati warganya masih sempit. Kemajuan sejati diukur dari seberapa kuat lengan kita merangkul mereka yang paling rentan. Sampai hari itu tiba, anak-anak kita yang istimewa akan terus berjuang sendiri di tengah keramaian.
Comments (0)