74 Pelajar Sekolah Rakyat Unjuk Karya Fotografi Budaya di TIM

Lobi utama Taman Ismail Marzuki (TIM) mendadak berubah menjadi galeri panjang yang dipenuhi bidikan lensa anak-anak sekolah rakyat. Sebanyak 134 karya fotografi tertata rapi di dinding pameran, seluru...

74 Pelajar Sekolah Rakyat Unjuk Karya Fotografi Budaya di TIM

Lobi utama Taman Ismail Marzuki (TIM) mendadak berubah menjadi galeri panjang yang dipenuhi bidikan lensa anak-anak sekolah rakyat. Sebanyak 134 karya fotografi tertata rapi di dinding pameran, seluruhnya mengangkat tema budaya Nusantara. Ini adalah wajah perdana Lomba dan Pameran Awan Cerah 2026, sebuah perhelatan yang berhasil mengumpulkan 74 siswa dari 36 Sekolah Rakyat untuk menuangkan gairah mereka pada akar tradisi melalui medium visual.

Lebih dari Sekadar Jepretan

Mengusung tajuk "Budaya dalam Bingkai", Awan Cerah 2026 tidak ingin sekadar menghadirkan gambar yang enak dipandang. Panitia penyelenggara merancang acara ini sebagai ruang ekspresi sekaligus pembelajaran kontekstual. Setiap foto yang dipamerkan harus menyertakan cerita singkat tentang subjek budaya yang diabadikan, mulai dari proses pembuatan batik tulis di Pekalongan, upacara adat di pelosok Sumatera, hingga detail arsitektur rumah tradisional yang kian langka. Dengan begitu, publik yang hadir tidak hanya melihat visual, tetapi juga menyelami makna di balik setiap komposisi cahaya.

Ketua panitia, yang enggan disebutkan namanya, menjelaskan bahwa format ini diilhami oleh kebutuhan mendesak untuk mendokumentasikan warisan takbenda dari sudut pandang generasi muda. "Anak-anak ini tumbuh di era digital, maka kamera adalah bahasa mereka. Kami hanya mengarahkannya kepada hal-hal yang sering terlewatkan," ujarnya di sela pembukaan. Pendekatan tersebut rupanya berhasil memantik antusiasme. Dari 134 karya yang masuk, hanya setengahnya yang bisa dipajang di ruang pamer utama, sisanya ditampilkan secara digital di layar interaktif yang disediakan di sudut lobi.

Partisipasi yang Melampaui Target

Semula, target panitia hanya mengharapkan keterlibatan 50 Sekolah Rakyat. Kenyataan berkata lain: 36 sekolah tetap menjadi angka yang menggembirakan karena distribusinya mencakup daerah perkotaan, pinggiran, hingga beberapa titik di luar Jabodetabek. Para peserta datang dari latar belakang yang heterogen, namun memiliki benang merah yang sama: rasa penasaran terhadap identitas budaya sendiri. Seorang siswi dari Sekolah Rakyat di kawasan Pasar Minggu mengaku baru pertama kali memegang kamera DSLR dua bulan sebelum lomba. Fotonya yang menampilkan siluet penari topeng saat matahari terbenam justru menjadi salah satu yang paling banyak dikomentari pengunjung.

Seluruh 74 peserta tidak hanya mengirimkan karya, mereka juga wajib mengikuti sesi kurasi langsung selama dua hari. Bagi banyak dari mereka, ini adalah pengalaman pertama berinteraksi dengan juri profesional yang terdiri dari fotografer dokumenter, antropolog visual, dan kurator seni. Proses seleksi berlangsung transparan. Juri menilai orisinalitas sudut pandang, keterkaitan narasi dengan gambar, serta kemampuan teknis dasar seperti pencahayaan dan komposisi. Bukan kecanggihan peralatan yang menjadi tolok ukur, melainkan keberanian menuturkan cerita.

Dialog Antargenerasi di Ruang Pamer

Salah satu daya tarik pameran ini adalah interaksi yang muncul secara organik antara peserta dan pengunjung. Sejumlah orang tua yang kebetulan sedang mengunjungi TIM terlihat berhenti lama di depan foto seorang nenek yang sedang menganyam tikar pandan. "Saya jadi teringat masa kecil di kampung," kata seorang ibu setengah baya yang mengaku sudah puluhan tahun tidak kembali ke tanah kelahirannya. Momen-momen serupa berulang di berbagai sudut, membuktikan bahwa karya siswa mampu menjadi jembatan bagi generasi yang lebih tua untuk mengenang dan bagi generasi muda untuk bertanya.

Pihak pengelola TIM menyambut baik inisiatif ini. Mereka menilai, Awan Cerah 2026 selaras dengan misi pusat kesenian tersebut sebagai wadah inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Pameran dibuka untuk umum secara gratis selama sepekan, dan setiap akhir pekan diadakan workshop fotografi dasar yang bisa diikuti oleh siapa saja. Tercatat, jumlah pengunjung pada tiga hari pertama sudah melampaui angka seribu orang, sebuah capaian yang cukup tinggi untuk pameran berbasis komunitas pelajar.

Di hari penutupan, juri mengumumkan tiga karya terbaik beserta sepuluh karya favorit pilihan pengunjung. Namun bagi para peserta, piala dan piagam bukanlah satu-satunya tujuan. Seorang siswa dari Sekolah Rakyat di kawasan Jakarta Utara, yang fotonya masuk nominasi, berkata, "Saya ingin suatu hari nanti anak-anak saya bisa melihat foto ini dan tahu bahwa di zaman saya, tradisi itu masih hidup." Kalimat pendek itu seolah merangkum seluruh semangat Awan Cerah 2026: merekam yang tersisa agar kelak bisa dikenang. Dengan berakhirnya pameran, panitia berjanji akan menjadikan kegiatan ini sebagai agenda tahunan demi menjaring lebih banyak sudut pandang segar dari anak-anak negeri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User